Review Konser Deftones : Jakarta, 8 Februari 2011

Kapan terakhir kali Anda melihat sebuah konser yang bagus ditutup dengan ratusan (atau mungkin ribuan?) kepala berteriak “suck, suck suck suck” bersamaan? Mungkin tidak pernah. Namun itulah ironisnya konser Deftones tadi malam, ironis dalam konteks yang positif.

Konser yang dilangsungkan tadi malam (Selasa, 8 Febrari 2011) di Tennis Indoor Senayan ini memang berlangsung sangat baik. Deftones sebagai sebuah kesatuan berhasil menghajar penonton yang datang dengan lagu-lagu dari keenam albumnya. Setlist mereka sangat menarik,. Lagu-lagu dimainkan berdasarkan kronologis rilisnya album-album mereka, seolah ingin mengajak penonton menyaksikan pertumbuhan Deftones sebagai sebuah band yang sudah berdiri belasan tahun ini. Menarik, karena lagu-lagu Deftones di era awal, sungguh mentah dan agresif dengan porsi distorsi dan groove dan teriakan Chino Moreno (album Adrenaline (1995) dan Around the Fur (1997)) yang dominan. Namun, pada perkembangannya pelan-pelan mereka memberikan porsi yang lebih banyak kepada unsur-unsur meditatif, dreamy dan sound-sound eksperimental, tentu saja tanpa melupakan identitas mereka sebagai band metal. Hasil eksperimen ini tentu saja bisa dilihat di 4 album selanjutnya, White Pony (2000), Deftones (2003), Saturday Night Wrist (2006) dan Diamond Eyes (2010).

Aksi panggung mereka tadi malam juga atraktif, memaksa penonton yang ada untuk ikut melompat dan head banging. Chino Moreno sebagai frontman tak henti-hentinya melompat, berlari-lari di atas panggung. Kalaupun berhenti, karena lagunya memang pelan dan dia sedang bermain gitar. Ada insiden kecil saat memainkan gitar di lagu “Beauty School”, somehow Chino salah memainkan nada, fals, dia berhenti sebentar, coba lagi, salah lagi, coba lagi, baru benar. Dasar frontman kharismatik, penonton tetap apresiatif, dan usai lagu itu dimainkan, ia dengan humble berkata “I’m sorry” dan penonton tetap bertepuk tangan. Range, tenaga dan stamina vokalnya juga patut diacungi jempol. Dari mulai nyanyian halus, sampai ke scream, semua dieksekusi dengan sempurna. Scream-nya pun juga bervariasi, dari mulai tipis berfrekuensi tinggi, hingga ke teriakan full power menghentak. Vokal yang biasa terdengar di albumnya, berhasil ditampilkan langsung dengan dinamis. Ini berlangsung hingga akhir konser, sebuah stamina yang luar biasa. Interaksinya dengan penonton juga berjalan baik. Mulai dari sapaan standar seperti “hello Jakarta”, gesture badannya yang seolah berkata ke penonton “let’s do this”, hingga ke usahanya menarik simpati dengan sesuatu yang berbau lokal. Kalau frontman lain mungkin berusaha berbicara dengan Bahasa Indonesia, Chino memilih cara yang berbeda, memuji Bir Bintang. Ia berkata “this is local beer, Bintang, and it’s good”. Berhasil. Penonton yang sudah mendewa-dewakan dia pun terpikat.

Bassist Sergio Vega (yang masih menggantikan Chi Cheng yang sedang dalam masa pemulihan pasca kecelakaan fatal) juga tak kalah atraktif, melompat-lompat, bergoyang, dan lari ke stand mic setiap kali part backing vocal-nya muncul. Drummer Abe Cunningham tampil flawless. Ketukan drum-nya hyper nge-groove, dan sound kick drum-nya bisa meruntuhkan tembok, no bullshit here, awesome sound from an absolutely awesome drummer. Sementara si gitaris, Stephen Carpenter, berdiri diam saja dengan badan besarnya, serta rambut gondrong terurai dan jenggot lebat sambil mengeluarkan distorsi-distorsi berat dari gitar 7 dan 8 senarnya. Sejujurnya, dengan pose ini, Stephen nampak lebih seperti pemimpin spiritual dibandingkan gitaris metal. Frank Delgado yang berperan sebagai DJ, berhasil menjalankan tugas yang cukup subtil. Alih-alih memainkan turntable dengan teknik scratching tradisional, ia justru mengeluarkan suara-suara aneh, soundscape menerawang dengan perangkatnya plus sebuah sampler. Ia juga memanipulasi vokal Chino on the fly, fitur yang tidak ada di rekaman Deftones. Lucunya, seolah-olah ingin menekankan sejarah Deftones, bahwa ia baru bergabung dengan Deftones sejak album White Pony, ia juga tidak selalu muncul di semua lagu pada konser tadi malam. Jadinya, ketika ia muncul, otak saya langsung bereaksi, “wah pasti akan ada sesuatu yang unik di sini” dan benar saja.

Kalau menyimak semua album Deftones, rasanya cukup valid jika mengatakan kekuatan sound mereka ada di sinergi suara frekuensi rendah dari kick-drum dan bass. Groove yang dihasilkan juga berhasil menjadi kekuatan utama untuk mengikat dan menggiring pemirsa. Hebatnya, kekuatan ini berhasil direproduksi di penampilan tadi malam, dan lebih maksimal. Sound keseluruhan didominasi bunyi bass dan drum yang berhasil menghentakkan dada saya. Bebunyian itu diperkuat ketika Stephen Carpenter memainkan gitarnya (oh, lebih dahsyat ketika yang dimainkan adalah gitar 8 senar-nya). Distorsi beratnya, bercampur dengan sempurna dengan 2 instrumen lainnya, sempurna. Ini menjadi fondasi yang kokoh bagi Chino untuk menyuarakan vokalnya serta permainan gitarnya yang memang cenderung berfrekuensi tinggi. Klop, tidak ada tabrakan frekuensi yang bisa melemahkan sound keseluruhan. Bagusnya lagi, berkat dominasi suara frekuesi rendah, usai konser, telinga saya tidak pengang seperti seusai menonton konser-konser lain. Rupanya konfigurasi sound seperti ini memberikan efek ramah bagi para pendengar.

Deftones sudah menemani saya dalam berbagai tahap kehidupan. Sejak dikenalkan oleh teman ketika saya SMP melalui media kaset rekaman sendiri, hingga ke masa SMA, S1, kerja dan S2 sekarang. Playlist andalan di iPod saya adalah semua album Deftones di-shuffle. Diamond Eyes dan Rocket Skates adalah 2 video klip yang paling sering saya putar ketika sedang meng-edit film saya. Singkat kata, Deftones selama ini sudah menjadi inspirasi saya terutama dalam bermusik. Semua pengalaman estetis tadi berhasil dibawa ke titik klimaks oleh konser tadi malam. Sebagai seorang fans, saya puas.

Terima kasih Deftones.

NB: kenapa penonton berteriak Suck? Ya. Suck adalah lirik di lagu 7 Words, lagu terakhir tadi malam.

Setlist:
1. Birthmark
2. Engine No. 9
3. Be Quiet and Drive (Far Away)
4. My Own Summer (Shove It)
5. Lhabia
6. Around the Fur
7. Digital Bath
8. Knife Party
9. Hexagram
10. Minerva
11. Bloody Cape
12. Diamond Eyes
13. CMND/CTRL
14. Royal
15. Sextape
16. Rocket Skates
17. You’ve Seen the Butcher
18. Beauty School
19. Hole in the Earth
20. Kimdracula
21. Change (In the House of Flies)
22. Passenger
Encore
23. Root
24. 7 Words

4 Comments

    1. wah terima kasih banyak Cha! 😀

      nggak kepanjangan ya? Bikinnya rada kejar tayang, biar masih fresh soalnya, jadi nggak sempet di-quality control, hehe..

      Thank you for reading my dear friend! 😀

      Reply

Leave a Reply