Review Film: The Raid

Ada satu momen yang jarang sekali gw alami ketika gw menonton film: ketika gw memasang ekspektasi yang tinggi terhadap sebuah film, dan ternyata ekspektasi itu terpenuhi. Sejujurnya gw ingin sekali bersikap netral sebelum menonton film ini, namun apa daya, ketika gw membuka Twitter, ada saja yang memberitahu bahwa film ini mendapat rating 95% di Rotten Tomatoes, atau masuk 30 besar IMDB, atau disebut-sebut sebagai film action terbaik dalam beberapa tahun belakangan. Otomatis, gw berharap bahwa film yang akan gw tonton bersama-sama teman-teman gw ini adalah film Indonesia yang memang bagus. Kalau malas baca review ini sampai habis, saya akan bilang, ekspektasi saya terpenuhi.

Dari sisi cerita, film ini memang super sederhana. Sekelompok pasukan khusus polisi, menyerbu apartemen yang dikuasai gembong penjahat bernama Tama untuk menangkap dan mengusir dia dari apartemen itu. Tentu saja konflik tidak terhindarkan, baku hantam terjadi di dalam gedung hingga akhirnya sang gembong tertangkap. Ada konflik-konflik lain yang tidak ingin saya kemukakan di sini, tapi intinya cukup demikian. Namun si sutradara rupanya berhasil membungkus cerita yang sedemikian dengan kemasan yang penuh, amat penuh, dengan aksi keras tanpa tedeng aling-aling.

Kalau anda menyangka ini hanya sebuah film action normal ala Hollywood, anda akan kecewa. Awalnya memang ada baku tembak, namun, film ini seolah-olah ingin mengatakan “saatnya film betul-betul dimulai” saat para polisi kehabisan peluru dan pertarungan mulai dilakukan dengan tangan kosong, pisau atau baton. Kalau di film Hollywood mungkin ketika peluru habis, para polisi mulai panik dan teriak “we’re running out of bullets, what should we do?” Lain halnya di sini. Para polisi justru santai, bersikap wajar dan terus melaju. Jantan.

Saya ingin mendedikasikan paragraf ini untuk menekankan betapa pertarungan tangan kosong adalah inti film ini. Kalau anda rindu dengan film action bela diri seperti film Hong Kong era 80-90an atau film Van Damme, pasti anda akan puas. Tercatat, setengah babak kedua film ini, memang diisi dengan pertarungan tangan kosong antara si jagoan, Rama, dengan para penjahat yang menghuni apartemen itu. Menurut saya, pertarungan ini justru membuat film ini nampak benar-benar nyata. Dengan setting film di Indonesia, hal ini adalah sesuatu yang sangat masuk akal. Di negara di mana senjata api tidak diperdagangkan secara bebas, tentu saja menjadi logis kalau sekumpulan penjhat menyimpan golok atau pisau di apartemennya, ketimbang sebuah shotgun atau handgun.

Untuk sebuah film yang mungkin hanya berisi 30 menit dialog, dan difokuskan secara efisien di aspek aksinya, perkelahian juga menjadi sebuah senjata yang bisa diandalkan untuk membuat film mengalir. Pertarungan intens yang dilakukan para aktor yang memang menguasai bela diri dan di-koreografi-kan dengan mantap berhasil membuat film hidup dan tidak sedikitpun membosankan. Berbeda dengan film umum yang mengandalkan dialog verbal antar tokoh, para tokoh The Raid justru berdialog melalui pukulan, tendangan, kuncian ataupun bantingan. Melalui paket aksi-aksi fisik nan keras inilah para penonton secara implisit diajak untuk mengenal para tokoh lebih dekat. Tidak heran kalau saya justru menaruh simpati pada tokoh penjahat Mad Dog, yang meskipun kejam dan handal luar biasa, kekalahannya tidak membuat saya berteriak “mati lu!” seperti ketika Bolo Yeung kalah di Blood Sport. Justru tepuk tangan simpati lah yang keluar dari badan saya ketika Mad Dog dikalahkan oleh pasangan Rama dan Andi, kakaknya.

Dengan jumlah pertarungan yang sangat banyak, memang akan menjadi sangat tricky untuk mengatur tempo dan dinamisme film. Untuk itu saya mengacungkan jempol yang sangat banyak kepada sang sutradara yang berhasil mengatur tempo setiap pertarungan dan mengatur jeda antar pertarungan, sehingga penonton diberi kesempatan untuk bernapas dan mengapresiasi pertarungan yang baru saja usai. Tak hanya itu, hiighlight setiap pertarungan, seperti ketika Rama membunuh salah satu geng Papua dengan menarik kepalanya dan menjatuhkannya tepat di patahan pintu, atau ketika Mad Dog mematahkan leher Jaka, tereksekusi dengan indah dan penekanan yang tepat.

Film ini juga berisi momen-momen kecil yang bisa mencuri perhatian saya. Geng Papua yang disebutkan sebelumnya nampak sungguh berkarakter, lengkap dengan logat Timurnya. Atau ketika Mad Dog memulai pertarungan melawan Jaka dengan meletakkan pistolnya sambil berkata “kalau begini sih nggak ada gregetnya”, lalu, menaikkan kedua tangan kosongnya ke atas seraya mengucapkan “ini baru ada gregetnya”, yang menurut saya benar-benar pesan literal kalau film ini lebih jantan dari sekedar film action adu tembak biasa. Pun dengan fakta bahwa sekelompok pasukan khusus ini tidak membawa bahan peledak. Satu-satunya ledakan terjadi ketika kulkas berisi gas ditembak. Detail-detail kecil ini yang membuat film benar-benar hidup dan nyata di mata saya. Sehingga saya tidak kesulitan untuk berempati dengan para tokoh-tokohnya.

Kalau ada kekurangan, mungkin adanya justru di artikulasi para aktor ketika mengucapkan dialog dengan cepat. Entah dikarenakan sang sutradara bukan native Bahasa speaker, sehingga hal-hal seperti itu jadi luput, atau karena hal lain. Yang jelas, cukup mengganggu ketika saya ingin mendengar dialognya. Tapi, masa bodoh, yang penting tinjunya bung!

Singkat kata, mulai kemarin, saya punya satuan baru pengukuran kerasnya sebuah film action. Satuan itu saya namakan The Raid. Rambo 4 itu kira-kira 3/4 The Raid (banyak darah, tapi masih pake senjata). Blood Sport: 1/2 The Raid (terlalu banyak dialog). Ninja Assassin:3/5 The Raid (masih pakai pedang, masih ada kisah cinta konyol). Yang pasti, saya akan menonton film ini lagi. Saya masih ingin mengupas lapisan demi lapisan seni film ini yang disajikan melalui adu jotos para pemerannya.

Masterpiece sinema Indonesia. Film action terbaik yang pernah saya lihat. Salah satu (jika bukan) film yang terbaik di tahun ini.

10 Comments

Leave a Reply