Vincent Vega

Rasanya seru sekali menceritakan pengalaman hidup saya dengan Vincent Vega. Tahun 2005, saya sempat menjadi kru gitar mereka, kadang untuk Saugan, kadang untuk Fikri. Pengalaman yang nampak remeh dan tidak glamor ini justru mengajarkan saya banyak hal, mulai dari sound gitar hingga ke bagaimana mempersiapkan band untuk tampil di sebuah acara musik. Secara sosial, perkenalan dengan band ini juga membuka link ke sebuah komunitas musisi yang sebelumnya hanya saya pandangi di majalah Ripple (RIP) ketika SMA. Melihat musisi keren di majalah dan lantas berinteraksi langsung dengan mereka itu rasanya absurd! Haha.

Sebelum menjadi kru, saya memang berteman dengan Saugan dan Fikri, karena mereka senior saya di sebuah unit kegiatan mahasiswa di kampus. Setelah saya tidak menjadi juga saya tetap berteman dengan mereka, juga dengan anggota yang lain tentunya, no biggie. Saya juga sering bertanya “Eh, VV kumaha?” bahkan ketika saya sudah berada nun jauh di Benua Kangguru. Saya bisa bilang, saya cukup peduli dengan band ini, karena ada nilai-nilai nostalgia ketika mendengar musik mereka, not to mention musik mereka memang berbeda dan bagus, bahkan untuk ukuran dunia sekalipun.

Hingga akhirnya sekitar 5 minggu yang lalu, adik saya berkata “Dit, ditanya Fikri tuh, mau masuk VV nggak, bantuin?” Jujur gw bingung, bantuin apa juga. Singkat cerita, Fikri, kemudian El berbicara di telepon dengan saya mengenai peran saya di VV. Kembali, gw cukup terkejut bercampur senang, karena posisi yang ditawarkan memang sesuatu yang sudah dari jaman These R Fake ingin saya lakukan. Memberikan sentuhan visual di setiap penampilan mereka, atau saya menyebutnya, live visualist. Tak hanya itu, saya mungkin juga akan bertanggung jawab terhadap output visual bergerak Vincent Vega, menyenangkan! Peran ini nampak bisa disejajarkan dengan peran Josh Graham di band Neurosis. Dia jelas salah satu influens saya.

Singkat cerita, Minggu, 20 Mei kemarin, saya melakukan debut di muka publik bersama mereka. The six of them crafting beautiful sound, while me responding it through visual medium. Seru juga melakukan peran VJ dengan konten yang disesuaikan dengan arahan band plus dilakukan di panggung. Seperti Coldcut dan Hexstatic mungkin ya. Saya belum mendapatkan feedback cukup banyak, apakah peran seperti ini cukup membantu band atau tidak, tapi yang jelas sudah banyak area yang harus saya perbaiki demi kebaikan si band.

Lagi-lagi, rasanya absurd, mendengar Caleb’s , dimainkan Vincent Vega, dan saya berada di tengah panggung, bukan di pinggir panggung, mengawasi apakah si gitaris butuh bantuan saya.

Cheers.

Leave a Reply