Sekolah itu Ibarat Mobil

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, bulan ini tahun ajaran baru sekolah kembali dimulai. Anak-anak kembali ke sekolahnya dan ada juga yg masuk di lingkungan sekolah baru. Ada yang bahagia karena berhasil diterima di sekolah atau perguruan tinggi favorit. Ada juga yg tidak begitu antusias karena NEM-nya tidak cukup untuk masuk ke sekolah idamannya dan orang tuanya. Apapun itu, yang jelas sekolah sudah dimulai, bangku sudah diduduki, tidak ada jalan lain kecuali belajar saja.

Sekolah favorit. Sejujurnya saya tidak terlalu paham dengan konsep ini. Memang apa yang dijanjikan oleh sebuah sekolah hingga ia layak diberi gelar favorit. Waktu SMA, saya masuk di SMA 28 yang waktu itu statusnya masih pendamping unggulan Jakarta Selatan (konon sekarang sudah sekolah unggulan, mengalahkan SMA 8, konon). Karena konsep sekolah favorit itu masih di awang-awang, saya anggap aja sekolah itu layaknya klub sepakbola. Kalau begitu mungkin SMA saya ini masih levelnya UEFA, ya anggap saja Everton atau Aston Villa lah (waktu itu). Jadi kalau saya masuk sini, supaya saya bisa masuk ke perguruan tinggi selevel MU, saya harus belajar giat. Oke. Singkat cerita, saya masuk Teknik Elektro ITB. Ada 18 orang lain dari SMA saya yang masuk perguruan tinggi yang sama di jurusan yang berbeda-beda.

Waktu kuliah, teori klub sepakbola tadi saya tinjau ulang. Sudah di ITB, yang notabene perguruan tinggi terbaik di Indonesia, saya berpikir, apa ini artinya saya jadi orang kaya begitu lulus? Atau apakah sekolah itu hanya alat bantu berjudi? Masuk sekolah favorit, artinya ya otomatis kans untuk mendapat hidup yang baik di masa depan lebih tinggi. Waktu itu, kegiatan saya sembari menunggu dapat pekerjaan adalah nongkrong di unit kegiatan mahasiswa, dan main kartu, dari jam 11 sampai jam 5. Sungguh produktif. Saya berpikir, sekolah itu adalah deretan kartu. Masuk sekolah favorit ya artinya kita dapat kartu bagus. Menang bisa jadi bukan urusan sulit. Saya tetap berpikir demikian hingga beberapa hari yang lalu.

Saat itu saya sedang mengendarai mobil di jalan tol. Kali itu jalanan macet. Mobil berbagai jenis menjejali jalan, semua berjalan sangat pelan, karena tidak ada yang bisa melaju kencang, lalu lintas padat. Saya berpikir, kalau saja saya tidak masuk tol, mungkin saya bisa tiba lebih cepat di tujuan. Mungkin lebih cepat dari mobil mahal yang ada di depan saya. Ini Jakarta, teori jalan tol = lancar, atau mobil sport mahal dengan kapasitas mesin besar lebih kencang dibanding smart car dengan cc yang lebih rendah sama-sama tidak berlaku. Semua bergantung motivasi si pengemudi, bagaimana ia cerdik mengambil peluang, sehebat apa ia memacu mobilnya. Lagi-lagi, kalau semua usaha sudah dilakukan, tapi masih terjebak macet, ya namanya juga Jakarta. Itulah sekolah bagi saya.

Sekolah favorit atau bukan, pada akhirnya tidak menjamin apa-apa, kalau lulusannya sendiri tidak punya kemampuan memacu dirinya untuk maju. Di lingkungan kerja, saya banyak menemukan rekan kerja yang bukan lulusan PTN favorit, tapi toh nyatanya karirnya baik-baik saja. Sebaliknya, lulusan PTN favorit juga ada yang karirnya mandek. Itu fakta, ada di lapangan. Karena di Jakarta ini, semua jenis mobil punya kedudukan yang sama. Semua kena macet. Cuma mobil dengan pengemudi berdeterminasi tinggi yang bisa kuat dan mengemudi sampai tujuan lalu tiba dengan senyum. Sisanya mungkin menyerah dan berkata “besok aja deh.”

Selamat bersekolah 🙂

6 Comments

  1. Suka dit sama tulisannya.
    Dulu (kayaknya sih sampe skrg) gue berpikir sekolah itu kayak main domino. Kalau SD kita baik,punya pengalaman & track record meluluskan siswa2nya ke SMP yg baik,maka kans kita semakin besar untuk bs masuk ke SMP yg baik juga. Begitu jg dari SMP ke SMA. Dan seterusnya. Mirip2 lah sama teori judi lo.
    Tapi di balik itu,sekolah yg baik (ntah kenapa gue nggak sreg unt blg sekolah favorit/unggulan) juga membantu ngebentuk karakter siswa2nya. Nggak kebayang kalau saat kita sedang masa imitasi,masa mencari identitas & jati diri,masuk ke sekolah yang punya budaya tawuran & gencet2an. Terlalu mengerikan untuk dibayangkan.
    Rasanya kalau bisa milih,gue lebih milih sekolah yang baik sih. Hehehehe
    Yah,meskipun gitu,tetep aja sekolah bukan satu2nya tempat untuk menimba ilmu & membangun karakter.
    Semoga yang masih & akan bersekolah dapat bekal yg terbaik buat membangun masa depannya 😀

    Reply

    1. amat disayangkan gw nggak bisa nge-like comment lo, soalnya gw setuju banget ama poin lo Ret. Itu ya poin pentingnya bersekolah di lingkungan yang bagus. Itu musti favorit ga ya kata lo? Hmm.

      Reply

  2. suka banget tulisan lo ini dit, dulu pun gw pas sekolah selalu dinasehatin sama ortu, kalau TK – SD- SMP – SMA pilih aja yang deket dengan rumah, supaya masih dekat dengan keluarga. baru pas kuliah, pilihlah universitas yang terbaik, karena udah dianggep cukup dewasa supaya milih mau jadi apa.tadinya gw pikir, sekolah deket rumah tuh ngebosenin, tapi pas sekarang udah lulus, bersyukur banget gw bisa tetep deket dengan keluarga. alhamdulillah masa tumbuh gw selalu diawasi orang tua, karena bimbingan keluarga dan orang2 terdekat ternyata penting juga dalam membangun karakter. hehehe.

    Reply

    1. waaaah, makasih Diani. hihi, wah keren juga tuh cara keluarga lo milih sekolah. Iya, keluarga mah penting banget, keren juga kalau peran keluarga nggak dikecilkan. kesannya sekarang apa2 salah sekolah dan lingkungan, da orang tuanya ke mana? hehe.

      Reply

  3. Kontemplasi ala Didit banget 😀
    Gw setuju klo sekolah itu kayak mobil, atau mungkin alat transportasi lainnya. Dan juga ibaratnya tol, sekolah favorit itu banyak yg pengen masuk dan jadinya ada kompetisi. Kalau kata gw sih, kompetisi (yg sehat) itu salah satu faktor yg bisa bikin orang sukses. Orang jd terdorong kerja keras dan belajar bergantung sama dirinya sendiri. Tapi ya itu, kembali lg sama ‘si pengemudi’nya; mau kerja keras apa engga.
    Di sisi lain, sekolah favorit belum tentu metode pengajarannya bagus (walau lingkungannya bagus dan ngedorong siswa buat kerja keras). SMA gw dulu kayaknya jadi SMA favorit lebih karena banyak-siswa-pinter-masuk-SMA-ini ketimbang kalau-masuk-SMA-ini-jadi-lebih-pinter. Jadi ujung2nya sekolah favorit mirip jg sama jaminan kualitas. :p

    Reply

    1. haha sepakat Yu, si sekolah favorit emang menjamin tingkat persaingan yg tinggi, yang bisa ningkatin kualitas murid. tapi ya gitu, kadang bukan berarti pengajarannya bagus. padahal menurut gw, ada saatnya murid perlu murni berguru sama yang lebih ahli. kalau ujung-ujungnya musti belajar sendiri juga, akhirnya mau sekolah di mana juga, peluang berhasilnya sama. 🙂

      Reply

Leave a Reply