Review 5cm

Hari Minggu kemarin, istri saya mengajak menonton film ini, 5cm. Mungkin ini kesekian kalinya saya menonton film di bioskop tanpa tahu ceritanya apa. Agak enak buat saya, jadi saya tidak punya tendensi atau ekspektasi apa-apa terhadap sekumpulan visual yang akan saya saksikan. Bahkan saya tidak tahu pemerannya siapa saja, melihat posternya pun tidak. Yang saya tahu, film ini diadaptasi dari novel berjudul sama. Kebetulan, saya punya rekor buruk dalam membaca novel sampai habis. Namun faktanya hal itu tidak membuat saya sulit menikmati film-film seperti Lord of The Rings, The Ring, DaVinci Code, Angels & Demons atau bahkan Pintu Terlarang yang semua dibuat berdasarkan novel. Menurut saya, film yang diadaptasi dari novel, mustinya bisa berdiri sendiri, tanpa harus membuat calon penontonnya menyelesaikan bukunya. Idealnya malah si buku memberikan informasi yang lebih dalam ketimbang film, tapi tetap si film mampu dinikmati sebagai sebuah tontonan tersendiri yang memberikan pengalaman unik.

Singkat cerita, film ini mengisahkan 5 orang sahabat, Arial, Ian, Genta, Zafran dan Riani yang sudah berteman selama 10 tahun. Lucunya, mereka selalu berkumpul setiap akhir pekan, tanpa terlewatkan sekalipun. Mereka lalu memutuskan untuk “cuti” bertemu dulu selama 3 bulan dan merayakan pertemuan kembali mereka dengan cara yang spesial, mendaki Puncak Mahameru. Rencana ini sendiri dirancang oleh Genta dan dirahasiakan ke 4 teman lainnya. Ia hanya berpesan kalau mereka akan bertemu di Stasiun Senen tanggal 14 Agustus. Mereka bertemu di sana, Arial juga mengajak adiknya, Dinda, turut serta. Maka, dimulailah inti perjalanan mereka.

Persahabatan memang topik yang tiada habisnya digali untuk dijadikan bahan film. Topik ini bisa dibungkus dalam berbagai genre, sebagai upaya menarik simpati penonton ke para karakternya, sehingga emosi mereka bisa habis dimainkan oleh sang sutradara. Dan jeleknya, di titik inilah 5cm gagal. Sampai ke akhir film, terlihat tidak ada usaha yang jelas untuk membangun konflik atau setingkat di bawah itu, membuat para karakter-karakter, sebagai sebuah kesatuan persahabatan, menarik simpati penonton. Kelima karakter dibanguns secara komikal dan trivial, Ian adalah tokoh lucu yang menggemaskan, Zafran pujangga kapiran, Genta si serius, Riani, yah, cewek banget (sampai bingung harus mendeskripsikan apa, Arial si jantan yang takut cewek (serius? cuma ini karakternya?) dan Dinda yang lebih sulit lagi mendeskripsikannya. Untuk film dengan karakter utama sesedikit itu dengan penekanan ke persahabatan, seharusnya penggalian karakter bisa lebih dalam lagi. Dan itu baru masalah parsial.

Masalah sebenarnya, untuk 5 karakter yang diceritakan sudah bersahabat selama 10 tahun yang intens bertemu, kelima aktor gagal total merepresentasikan kedekatan mereka. Kaku, tidak ada kesan akrab dan yang ada malah saling malu. Dialog mereka juga patah-patah, minim sekali chemistry di antara mereka. Tokoh Ian dan Zafran mungkin bisa sedikit dibilang berhasil, tapi itu baru 2 dari 5. Ketika mereka berlima digabung dalam 1 frame, yang ada justru komunikasi datar. Coba bandingkan dengan film yang sekilas lebih dangkal, Napoleon Dynamite. Tonton film itu dan coba amati bagaimana ada chemistry, ada ikatan antara Pedro dan Napoleon. Meskipun keduanya diceritakan sebagai idiot yang baru saja kenal.

Kalau masalah se-fundamental itu gagal, maka tidak heran ketika film ini mencapai adegan klimaks, saya sangat tidak tersentuh. Pun ketika ada sedikit musibah yang menimpa salah satu dari mereka, sulit untuk terharu atau sedih, karena ya itu, tidak ada kedekatan emosional dengan para tokoh. Puncak dari semua kekacauan ini adalah ketika mereka meneriakkan dengan lantang pesan-pesan nasionalisme yang malah membuat saya makin mengernyitkan dahi. Sungguh? Apa hubungannya semua persahabatan ini dengan nasionalisme? Apa sih pesan dari film ini sebenarnya?

Kalau boleh disingkat, film ini murni berisi tempelan-tempelan yang inkoheren di sana sini. Tempelan karakter, tempelan latar belakang, tempelan puisi, tempelan line dialog yang “tweet-able”, tempelan komedi, hingga ke tempelan nasionalisme. Hell, bahkan audionya pun di beberapa adegan ditempel dengan tidak rapih. Cek adegan saat mereka berlima berkumpul di rumah Arial, itu audionya di-mix dengan sangat tidak rapih hingga ke tingkat mengganggu saya yang jarang memperhatikan detail. Mungkin satu-satunya tempelan yang berhasil ya tempelan visual pemandangan Semeru yang menakjubkan. Tapi kalau murni mau melihat itu ya lebih baik disajikan saja dalam bentuk dokumenter yang niat, ketimbang film tempelan seperti ini.

Kesimpulan: film drama yang datar. Sulit untuk mengapresiasi film seperti ini. Sedikit tertolong dengan visual indah, tapi itu tidak berarti banyak.

Ponten: 4/10.

16 Comments

    1. maybe because it’s so marketable. it’s easy to understand, plus, there’s that tiny bit of selling local tourism attraction, which we all agree, it’s all the rage at this moment.

      Reply

  1. buat aku ni film seharusnya dibikin utuh, mungkin krna durasi waktu jd byk adegan yg di skip, padahal itu jlas” bkal bikin alurnya gk utuh dn critanya jdi gk nyambung

    Reply

  2. Nice review, Dit 🙂

    Rencananya gw mau nunggu orang berbaik hati upload film-nya saja sih. Soalnya, nggak bisa ditonton di, Bro.

    Dan setelah baca review mu, jadi tambah penasaran gw sejelek apa sih. Soalnya dulu gw baca itu novel 5cm keren banget lho. Pengalaman ke Semeru jadi bikin imajinasi gw tambah tajam (meskipun gw nggak sampe puncak waktu itu).

    Bisa jadi kru & aktor/aktris nya udah nggak konsen karena capek n kedinginan pas lagi naik gunung, Jadi perannya pun jadi nggak maksimal. wekekek…

    Sekali lagi, review yang menaik.

    Reply

    1. Wah makasih banyak Cor, hehe. Hmm..kayanya setelah gw ngobrol dengan beberapa orang, yang udah baca novelnya cenderung lebih punya khayalan yang megah tentang film ini. Ya balik lagi, secara visual sih oke, mungkin khayalan dikau juga bisa terpenuhi, hehe.. Ya cuma kurang akting dan ceritanya aja sih. Coba ditonton aja, mungkin malah jadi nggak setuju sama review saya 😀

      Reply

Leave a Reply