Serunya Mengajar di Kelas Inspirasi

20 Februari kemarin saya resmi menyelasikan tugas mengajar di Kelas Inspirasi. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan dan tiada duanya. Di Kelas Inspirasi ini, ratusan profesional berkumpul dan disebar di SD-SD untuk menceritakan profesi mereka ke adik-adik di sekolah itu. Satu hari itu, mereka jadi relawan yang diberi peluang untuk berinteraksi langsung dengan wajah negara ini di masa depan. Para relawan ini tentu saja tidak sendiri, mereka dikelompokkan dan diberi 1 SD untuk dikunjungi dan diajar.

Saya sendiri masuk ke kelompok 24 bersama 7 orang profesional lain. Ada Mas Afit , si koki yang memiliki restoran stik yang tersohor di Jakarta. Mbak Vita , si penerjemah bahasa Jepang, turut bertanggung jawab atas komik-komik Serial Cantik berbahasa Indonesia. Pak Alwin, yang singkat saja, CEO sebuah BUMN. Mbak Puri , si instruktur di sekolah menyelam. Mbak Anita , yang bertanggung jawab atas produk di sebuah perusahaan telco besar. Felix, teman kuliah saya yang kini bekerja sebagai IT engineer. Terakhir ada Mbak Iffa , konsultan di sebuah perusahaan multinasional ternama. Oh, kita juga ditemani oleh Mbak Sianny yang hari itu jadi fotografer kami. Plus, kelompok kita juga dibantu oleh fasilitator kita, Mbak Fitria alumni indonesia Mengajar. Kelompok ini seru sekali. Sebagai seorang introvert yang sejujurnya punya masalah untuk kenal dengan orang baru, saya ternyata bisa blend in dengan enak dengan mereka. Dari pertama kali berinteraksi di briefing awal, terasa sekali kalau mereka ini orang-orang hebat, dengan skill komunikasi yang hebat pula. Akhirnya, urusan mengatur jadwal urutan mengajar, kunjungan ke sekolah dan berbagai urusan kecil lain ternyata bisa dibahas dengan baik. Kita sempat 2 kali berkumpul sebelum hari-H mengajar, dan suasananya selalu bersahabat. Selayaknya kita sudah berteman lama. Salut.

pohon-inspirasi-14

Di mana kami mengajar? Sebuah kebetulan, ternyata kami mendapat giliran mengajar di SD Pejaten 03 Pagi. Letaknya hanya 7 menit kalau berjalan kaki dari rumah saya. Sebuah mukjizat bagi saya yang susah bangun pagi. Mukjizat juga buat Iffa yang tengah hamil 8 bulan, jadi dia tak perlu pergi jauh-jauh dari rumahnya. Bagi saya ini juga jadi kesempatan langka, berinteraksi langsung dengan anak-anak lingkungan saya. Hal yang jarang sekali saya lakukan sebelum ini.

Hingga tiba di hari-H itu. Sebelumnya kami sudah mengatur jadwal mengajar, setipa dari kita akan mengajar sekitar 6-8 kali, semua diberi kesempatan untuk masuk ke semua kelas. Saya sendiri kebagian mengajar kelas 1, 2B, 3, 4, 5A, 5B dan 6B. 7 kali secara keseluruhan. Setiap sesi diberi waktu sekitar 30 menit. Waktu yang singkat, tapi percayalah, itu adalah 30 menit paling seru di hidup saya.

Sebenarnya, untuk menjelaskan profesi saya sebagai interaction designer, saya punya banyak sekali kesulitan. ini bukan dokter, atau polisi atau guru yang setiap hari dilihat anak-anak. Lebih-lebih lagi, bahkan menjelaskan profesi ini ke orang dewasa pun sulit sekali. Coba, pembaca blog ini, ada yang tahu apa itu interaction designer? 😉 Saya pun akhirnya memfokuskan diri ke menyiapkan permainan interaktif atau digital device yang kira-kira seru untuk dilihat atau dirasakan para anak. Saya pun menyiapkan 4 senjata untuk ini. Senjata pertama saya: sebuah game zombie, di mana para pemain harus teriak bersamaan untuk mengusir para zombie ini. Senjata kedua: remote control, device digital yang sering ditemui anak. Senjata ketiga: iPad, device digital mainstream dengan interaksi paling natural. Senjata terakhir: Stik Sega, device digital yang fungsinya familiar bagi anak tapi di lain pihak, mereka tidak tahu apa itu. Dengan senjata-senjata ini, saya berharap bisa menjelaskan profesi saya sebagai interaction designer, perancang interaksi antara user dengan device digitalnya.

Meski sudah menyiapkan senjata-senjata itu, ternyata saya masih dag dig dug juga. Ada perasaan gugup yang membuat saya gugup, sedikit tidak yakin akan kemampuan mengajar saya. Tapi hey, begitu melongok handphone, ini sudah tanggal 20, jam 7 pagi, the show must go on. Saya pun masuk ke kelas 3. Singkat cerita, ternyata respon mereka luar biasa. Mereka begitu senang ketika saya tunjukkan game zombie itu. MEski ada sedikit masalah responsivitas sistem, mereka ternyata senang sekali dengan proses interaksi di game itu. Di setiap kelas, saya berusaha keras menyajikan pengalaman interaktif. Kadang dengan game, kadang dengan metode favorit anak: menggambar. Mereka saya minta menggambar banyak hal, mulai dari rumah, remote hingga stik ps. Saya kemudian bertanya kepada mereka, tentang berbagai aspek design thinking, kenapa pintu ada di rumah, di mana daun pintu harus diletakkan, kenapa meskipun semua remote tv berbeda merek tapi mereka bisa tahu tombol power ada di mana, lalu kenapa stik PS punya banyak tombol tapi enak buat dimainkan, bandingkan dengan stik Sega. Serunya juga saya minta mereka yang belum pernah memainkan iPad untuk mencoba main, coba tuliskan nama mereka dan mereka semua bisa.

Hal-hal interaktif dengan barang-barang digital itu yang saya jadikan analogi untuk menjelaskan pekerjaan saya. Mungkin sedikit berat bagi mereka, tapi saya merasa bahwa saya di situ bukan cuma menjelaskan profesi saya, tapi lebih ke menggali dan sedikit menstimulasi design thinking di otak mereka. Meski sederhana, mereka sudah bisa mempraktekkan pemikiran desain yang seru ternyata. Mereka benar-benar mengapresiasi bentuk interaksi yang seru dan menyenangkan. Sebuah renungan menarik bagi kami para interaction designer.

Tentu saja, saya berhadapan dengan anak SD yang super duper ekspresif, ada banyak sekali cerita lucu yang terjadi. Di kelas 1, saya sedikit gagal ketika meminta mereka maju untuk menggambar. Alih-alih malu-malu, mereka justru berebutan maju, ada yang dorong-dorongan, ada yang menangis, ada yang berantem, haahahaha. Akhirnya saya minta mereka kembali ke kursi mereka dan menggambar rumah di buku mereka masing-masing. Ternyata pertanyaannya jadi banyak “Pak, ak ga bawa buku gambar” “Pak aku ga bawa krayon” “Pak, si ini ga bawa pensil”, waduh, hahahaha.

Lain lagi di kelas 5B, ketika saya tanya “ada yang suka main internet?” mereka jawab iya, dan website yang sering mereka buka adalah Facebook. Waduh. Mohon maaf kepada yang membaca, tapi kalau dilihat terms and conditions Facebook, orang yang boleh membuka akun adalah yang berusia 13 tahun ke atas. Itu adalah hal yang banyak orang tua tidak tahu, hingga akhirnya pelajaran sedikit saya improvisasi menjadi “Bahayanya Facebook bagi Anak”. Mereka juga saya minta janji untuk menutup akun FB mereka. Mungkin ini sedikit bertolak belakang, interaction designer, tinggal di dunia digital, gila socmed, malah menyuruh anak jauh-jauh dari FB. Tapi saya percaya, dunia digital tidak akan lebih asik dari dunia nyata, dan anak kecil akan kehilangan masa-masa menyenangkan kalau dari kecil mereka sudah terpaku di depan layar PC.

ki24-2

Yang membuat saya terharu, di setiap kelas, saya melihat kalau mereka memang benar-benar ingin belajar hari itu. Saya tidak lagi harus bilang “anak-anak, ayo diam”. No. Ketika ada yang berisik, mereka dengan sendirinya bilang “eh, jangan berisik dong, kita pengen belajar nih”. Saya terharu.

Oh iya, setiap selesai memainkan Game Zombie , mereka selalu antusias dan penuh rasa ingin tahu mereka bertanya “kak, gimana cara bikinnya?” Saya bilang “aku program” Aku yakin, mungkin mereka nggak tahu apa itu programming, tapi hei, mungkin mereka jadi terpacu untuk bikin game di masa depan. Dan ya, anak-anak jaman sekarang sudah akrab sekali dengan teknologi, mungkin merekalah yang disebut digital generation. Saya super yakin, mungkin mereka sudah jauh lebih digital daripada para orang tua di kantor-kantor yang setiap hari gelagapan dengan proyeksi “going digital”. Hanya tugas kita sebagai orang tua pun harus bergeser ke pengawas. Kita tidak lagi harus menguasi teknologi, tapi harus tahu apa yang boleh diakses anak dan tidak boleh.

ki24

Di akhir acara, kita menyiapkan pohon inspirasi buat para murid, di mana mereka boleh menuliskan cita-cita mereka. Banyak sekali yang ditulis, mulai dari dokter, guru, polisi, astronot, pelaut dan yang plaing hip di kalangan murid cowok, pemain bola. Saya tidak akan menyalahkan TV karena waktu SD juga cita-cita saya jadi pemain bola, look at me now. Lucunya, tidak ada yang menuliskan presiden lho. Nah, ada apa ini? 🙂

Singkat cerita, ini adalah sebuah pengalaman super menyenangkan. Kalau boleh dibalik, bukan saya yang menginspirasi mereka, malah saya yang terinspirasi. Ada tatapan jujur di mata mereka, tatapan yang berkata “Kak, aku mau belajar terus dong”. Tak terelakkan lagi, merekalah Indonesia di masa depan. Sebuah privilege yang luar biasa berada di antara mereka. Kini pertanyaannya apakah hubungan saya dengan mereka disudahi begitu saja? Atau bisakah kita memberi lebih dari sekedar 1 jam pelajaran di 1 hari? Lebih lagi, mereka tinggal di lingkungan saya, can I give more for my environment?

Kalau ada yang mau membuat follow up Kelas Inspirasi di daerah Jakarta Selatan hubungi saya ya. I’m more than happy to join.

sekolah-2

3 Comments

Leave a Reply