Yakin Mau Go Digital?

Sehari-hari, sebagai seorang pekerja di agency iklan yang mengurusi masalah digital, gw sering kali bertemu dengan klien yang ingin “go digital”. Wajar memang, karena harus diakui, konsumsi media tradisional seperti TV, koran atau majalah, pelan-pelan tergerus oleh kehadiran media digital. Sebuah riset menunjukkan bahwa kini, masyarakat menghabiskan waktu lebih banyak di depan kopmuter atau gadget elektroniknya tanpa mengurangi konsumsi TV atau radio. Yang artinya, lebih banyak kemungkinan iklan dari si brand yang ditayangkan di TV atau radio disalahartikan oleh khalayak. Tambahkan itu dengan fakta bahwa biaya media placement di situ harganya selalu mahal, maka wajarlah kalau brand ingin go digital. Hemat ongkos marketing plus ada pasar yang basah di sana.

Hingga pertanyaannya sekarang adalah “yakin mau go digital?” Ini bukan masalah mau campaign seperti apa, mau menggunakan sosial media yang mana, tapi kembali ke motivasi awalnya. Karena menurut saya, menggunakan media digital ini justru banyak sekali jebakan Batman-nya.

Coba perhatikan betapa banyak brand yang berseliweran promosi di timeline Twitter atau newsfeed Facebook kita, baik yang sekedar promosi halus via buzzer hingga ke yang lebih hard selling seperti promoted tweet atau page. Lalu pikirkan sejauh mana kita akan bereaksi merespon atua setidaknya memperhatikan promosi tersebut. Kalikan lagi dengan berapa banyak brand yang melakukan itu setiap hari. Sekarang pikir, bagaimana brand yang baru mau masuk digital bisa stand out?

Menurut saya pertanyaannya justru bukan itu. Karena promosi dengan cara tersebut, tak ubahnya promosi cara tradisional (hard selling) yang diaplikasikan di media digital. Dan termasuk di cara itu adalah mengadakan activation berupa kontes, apapun bentuknya. It’s good for a temporary set of time, but then what’s next? Justru semestinya, media digital ini dijadikan ajang bagi brand untuk lebih dekat dengan konsumennya, jadi media komunikasi natural seperti layaknya kita nimbrung komen di update status teman atau me-RT dan mention tweet gebetan.

Sekarang, andai brand Anda adalah brand makanan, maka tinggalkan jauh-jauh tweet yang berisi motivasi kosong atau quote-quote hampa padahal brand Anda adalah brand makanan. Apa hubungannya berpikir positif dengan sepiring masakan produk brand Anda? Apa korelasinya? Apa tidak lebih baik brand Anda membicarakan masakan di seluruh dunia? Lalu dari situ ngobrol dengan calon konsumen Anda? Pekerjakan karyawan yang khusus mengelola akun social media Anda, hingga ada transfer value brand yang jelas dari Anda ke calon konsumen Anda.

Effortnya memang berat. Maka dari itu, kembali lagi ke pertanyaan awal “Yakin mau go digital?”

Leave a Reply