Indonesia

Film ini adalah pandangan saya terhadap konflik di negara tercinta. Konflik antar elemen masyarakat, bagaimana media elektronik mengarahkan opini publik dan apa yang mungkin terjadi kalau ini terus berlangsung. Film ini adalah bentuk kecintaan saya terhadap tanah air sekaligus bentuk paranoia saya seandainya negara saya ini runtuh. Film ini tentang Indonesia.

Sebagai karya film/video art pertama saya, tentu “Indonesia” menjadi sesuatu yang bersejarah. Ini pertama kalinya saya menjadi sutradara, ini pertama kalinya saya menjadi aktor dan ini pertama kalinya cita-cita saya membuat soundtrack untuk film tercapai. Semua menjadi tambah istimewa karena saya berekspiremen dengan menggunakan 3 layar untuk memproyeksikan film ini. Nampak menarik, karena dengan 3 layar ini saya bisa berimprovisasi dengan semua cuplikan video yang saya rekam. Musiknya juga merupakan musik yang saya dengar secara intensif selama beberapa bulan belakangan, drone metal. Pengaruh dari Sunn O))) dan Earth benar-benar saya tumpahkan di sini, dan tentu tidak lupa, mistisme gamelan sebagai diferensiasi dari musik sejenis.

Hasilnya, bisa teman-teman nikmati sendiri di sini. Saran saya, silahkan interpretasikan sendiri apa yang teman-teman lihat, sebagaimana saya berimprovisasi dalam membuat, teman-teman juga bebas berimprovisasi sebagai pemirsa. Yang jelas, film ini penuh dengan simbol-simbol sehingga mungkin perlu beberapa kali melihat. Oh ya, kencangkan volume speaker komputer Anda, karena film ini lebih baik dinikmati dalam volume maksimum.

Selamat menyaksikan.

Indonesia from Adityo Pratomo on Vimeo.

Indonesia from Adityo Pratomo on Vimeo.

My top 20 tracks from the last 3 months

So basically these are the tunes that accompanied me after exhausting those office hours. 3 months are relevant enough, therefore I guess I still love listening to any of these songs these days. This data is as testified by last.fm 😀

1. 3 Inches of Blood – Battles and Brotherhood
2. Steve Aoki – Shake And Pop (Feat. Kid Sister, With Green Velvet)
3. 3 Inches of Blood – Call of the Hammer
4. Job for a Cowboy – Regurgitated Disinformation
5. The Black Dahlia Murder – Christ Deformed
6. Yelle – Je Veux Te Voir
7. Coheed and Cambria – Welcome Home
8. The Black Dahlia Murder – I Will Return
9. 3 Inches of Blood – Rock In Hell
10. The Black Dahlia Murder – Death Panorama
11. Yelle – Amour Du Sol
12. The Black Dahlia Murder – Throne Of Lunacy
13. The Black Dahlia Murder – Eyes Of Thousand
14. 3 Inches of Blood – Silent Killer
15. Mr. Oizo – Minuteman’s Pulse
16. Job for a Cowboy – March To Global Enslavement
17. Himsa – Summon In Thunder
18. Yelle – Mal Poli
19. Killswitch Engage – Holy Diver (Dio Cover)
20. Brand New – Good to Know That If I Ever Need Attention All I Have to Do Is Die

Dominated by The Black Dahlia Murder, 3 Inches of Blood, and Yelle, hahaha… Hmm…i should make a mixtape 🙂

How To Install Processing on Ubuntu

Now this one is more straightforward than Pd-extended. Just some easy steps. I perform this last night on My Ubuntu 8.04 Hardy Heron on a 64-bit platform.

1. Download the .tgz Processing for Linux file that available at processing.org/download
2. Download and install the Java Runtime for Ubuntu that can be searched using Synaptic. I use Java Runtime Environment 6.
3. Download and install libstdc++6 also using Synaptic. I’ve read here that using libstdc++5 is also possible.
4. Extract the Processing.tgz.
5. Run the file “Processing”.

That’s it. 5 easy steps. Apparently the Processing official site told that Ubuntu 8.04 64-bit and the 7.10 is the testing platforms on their lab. So I believe this steps would also applicable in 7.10. I’m not sure can this also be done in other versions of Ubuntu. But, you can try it.

As usual, pls comment if you find something’s wrong here.

Cheers

Installing Pure Data Extended on 64-bit Ubuntu

Okay, it’s 11 PM right now, i should get some sleep. But, before I go to sleep, here’s some step for you who want to install Pure Data extended or Pd-extended, to abbreviate, on a 64-bit Ubuntu (I use Hardy Heron, so I don’t know if other version would work). There’s no Pd-extended installer for 64-bit system in Pd official site, but believe me, this way would work. Just done it myself 🙂
Continue reading →

Emergency! Darurat!

Beberapa waktu yang lalu saya diajak teman untuk pameran di nusubstance 209, sebuah pameran yang menampilkan instalasi dan karya-karya seni multimedia interaktif. Nampak menarik, karena saya punya sesuatu untuk dipamerkan.

Namun, ketika saya tanya kapan tanggalnya, teman saya dengan enteng menjawab, 19 Oktober, yang sama dengan minggu depan! Hahaha… Padahal hingga tadi malam, alat buatan saya ini juga belum juga jadi.

Oke, jadi hingga at least tanggal 18, saya punya list yang harus saya kerjakan:

1. Membersihkan Ubuntu 8.04 saya, jadi bisa dipakai sistem dasar yang hanya untuk menjalankan karya saya
2. Menginstal Processing dan Pure Data extended
3. Menjalankan program yang sudah saya buat di keduanya
4. Memastikan keduanya bisa berkomunikasi via OSC
5. Menginstal webcam yang bisa berjalan di atas Processing
6. Membuat instalasi fisik

Fiuh… 6 langkah yang pastinya tidak sebentar. Okey then, mulai malam ini harus bergerak. Jadi kalau dalam beberapa waktu saya tidak aktif di dunia maya, mohon maaf ya 🙂

Doakan saya sukses, dan saya akan segera mengabari, sebenarnya apa sih yang saya bikin 🙂

Cheers

5 hal yang belum sempat saya lakukan selama jadi mahasiswa ITB

Wah tak terasa sudah nyari setahun saya diwisuda dari ITB tercinta. Sudah ini itu saya lakukan selama jadi mahasiswa, tapi ternyata masih ada beberapa hal yang tertinggal. Untuk merayakan itu, saya mendaftar 5 hal yang belum sempat saya lakukan selama jadi mahasiswa ITB. Tentu saja nggak cuma 5 ini saja, tapi ya ini 5 hal yang pertama terlintas di kepala saya kalau ditanya “belum ngapain aja selama di ITB?” So, ini dia hasil mengenang masa lalu 🙂

1. Jalan-jalan ke kebon binatang Tamansari

Sebegitu deketnya kebon binatang ama kampus, tinggal gelinding doang, tapi saya belum pernah menyambangi tuh tempat. Entah kenapa, kayanya lupa, biarpun pernah diniatin, haha…

2. Jadi pengawas ujian

Nah kalau yang ini selalu karena enggak tahu jadwal pendaftaran jadi pengawas. Kalau buat ngawas ujian TPB (mahasiswa tingkat 1) sih emang nggak bisa, karena harus jadi asisten lab dasar dulu. Sampai sekarang saya nggak tahu apa rasanya ya jadi pengawas ujian. Tapi pastinya sih lebih serius daripada jadi asisten lab yang bisa “cengos” 😛 Padahal saya sudah menyiapkan sejuta aksi buat dilakuin kalao mergokin anak yang ketauan nyontek. Sayang rencana tinggal rencana.

3. Minjem buku di perpustakaan

Gimana mau minjem buku kalau ke perpustakaan aja nggak pernah, haha… Sekalinya ke perpustakaan cuma buat ngurus kartu bebas pinjam sebagai syarat buat daftar ulang semester baru. Sekalinya saya sering mendatangi perpustakaan itu pas semester 7 buat nyari bahan Tugas Akhir. Tapi ya itu juga akhirnya tidur, ya uda deh… 😛

4. Nginep di lab pas jaman Tugas Akhir

Kalau yang ini karena saya butuh tempat yang luas dan ketenangan dalam mengerjakan tugas akhir. Bukan apa-apa, emang TA-nya kaya gitu, butuh tempat luas buat diujicobakan. Jadinya ya udah , kebetulan di rumah ada space yang pas, ngerjain TA-nya di rumah terus deh

5. IP 4 di satu semester

Hahaha…kalau soal ini, teman-teman ITB angkatan 2004 pasti ingat kalau pas masuk, rektor kita waktu itu, Pak Kusmayanto Kadiman, pernah bilang parameter keberhasilan mahasiswa itu ada3:  lulus tepat waktu, IP 4 dan gaul. Sayang, dari itu semua, kayanya yang paling jauh dari genggaman saya ya IP 4 itu. Boror-boro IP 4, buat dapet IP di atas 3 aja baru semester 6 ke atas, hahaha… Dasar pemalas :p

Ya itu dia daftarnya. Bagaimana dengan rekan-rekan? Ada yang punya top5 yang lain? hihi…

saat seniman juga coding: pendekatan lain dalam penciptaan audiovisual interaktif

Media digital belakangan ini menjadi salah satu media yang banyak digunakan seniman untuk berekspresi. Media ini menawarkan berbagai kemudahan bagi penggunanya. Selain lebih awet, format digital juga mudah untuk direkayasa dan digabungkan dengan bentuk digital lainnya. Contohnya, video klip yang menggabungkan video dengan audio, atau game yang menggabungkan animasi, audio, algoritma, dan interaktivitas. Interaktivitas ini juga dikembangkan lebih lanjut dengan menggabungkan komputer dengan sensor-sensor tertentu untuk menghasilkan sebuah bentuk baru komunikasi antara manusia dengan komputer. Maka tak heran bila media digital menjadi media baru yang banyak digunakan untuk membuat karya audiovisual interaktif.

Namun, untuk membuat sebuah karya yang sah nilai komersilnya, perlu diperhatikan aspek legalitas dari proses pembuatan karya tersebut, seperti legalitas tool yang digunakan, baik itu hardware maupun software, dan juga ada tidaknya unsur dari karya orang lain. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba memberikan contoh pendekatan lain dalam membuat sebuah karya kreatif di bidang audiovisual interaktif.

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

contoh dari merender dengan menggunakan bahasa pemrograman Pure Data

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membaca buku yang membahas secara mendalam tentang VJ (Visual Jockey) sebagai sebuah kultur audiovisual. Buku ini berisi wawancara dengan beberapa VJ terkemuka di seluruh dunia dan juga tinjauan historis dan teknikal mengenai profesi VJ itu sendiri. VJ di sini bukanlah VJ yang menjadi pembawa acara musik di TV, melainkan seorang yang menampilkan visualisasi sebagai pengiring musik, baik yang diputar di klub maupun yang dimainkan langsung dalam format band.

Dalam bagian wawancara, ada sebuah pertanyaan yang selalu ditanyakan berulang kali kepada hampir semua VJ, yakni bagaimana mereka berurusan dengan copyright, atau hak cipta dalam setiap visualisasi yang mereka tampilkan, baik itu gambar maupun potongan film. Jawaban mereka berbeda-beda, namun beberapa memberikan jawaban yang cukup unik: mereka tidak peduli karena mereka justru yakin bahwa yang mereka tampilkan adalah murni karya mereka sendiri, murni sesuatu yang mereka program sendiri.

Para VJ yang melakukan programming sendiri ini, bahkan lebih lanjut menunjukkan bahwa dengan metode ini, mereka bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka, yakni sebuah karya yang menunujukkan interaktivitas antara audio dan visual. Membuat visual yang berinteraksi dengan frekuensi-frekuensi tertentu dari musik yang dimainkan DJ, atau bahkan sesuatu yang bisa bereaksi terhadap perilaku penonton dan membuat pertunjukan musik semakin semarak. Dari sini nampak bahwa dengan melakukan programming, para VJ ini bisa mewujudkan khayalan mereka tentang bentuk interaksi manusia dengan media komputer.

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

live video effect dengan bahasa pemrograman Processing

Saat menghubungkan antara penciptaan dengan software melalui media komputer, aspek legalitas software yang digunakan, akan menjadi sesuatu yang vital. Tentunya akan nampak konyol saat menciptakan sesuatu yang murni buatan diri sendiri namun pembuatannya menggunakan software bajakan. Ada pelanggaran hak cipta juga di situ. Dengan melakukan programming sendiri, baik dengan menggunakan bahasa high level seperti C++, Java, atau Visual Basic, ataupun dengan programming environment open source yang sengaja dibuat untuk karya seni semacam Processing, Pure Data, Design By Numbers, dan Gridflow, tentu saja aspek penggunaan software bajakan sebagai tool kreatif juga bisa dihindari.

Secara filosofis anggaplah bahasa pemrograman ini sebagai kuas dan cat, dan kanvasnya adalah komputer. Komputer ini akan diberikan kode-kode untuk membuatnya bekerja menuruti imajinasi si seniman. Hasilnya sebuah karya seni di ranah digital yang bebas untuk diaplikasikan, mulai dari untuk media iklan, website, game, dan sebagainya. Dengan metode ini, hak cipta juga dapat dihargai dan orisinalitas karya juga menjadi sesuatu yang bisa dijamin, tentu saja selama ide karya itu tidak memplagiat karya orang lain.

Maka tidak heran, kalau hari ini, seniman juga bisa coding.

Akhirnya CCNA Juga

Well, 2 hari yang lalu saya akhirnya bisa juga lulus ujian jadi CCNA, alias Cisco Certified Network Associate. Cukup bikin lega, karena at least saya bisa mendapatkan bukti pengakuan kemampuan di bidang network, dan jadinya nggak malu lagi kalo ditanya customer “Udah CCNA Mas?”, hehe…

CCNA sendiri adalah tingkatan terendah dari sertifikasi profesional yang diberikan oleh Cisco, sebuah vendor network device pemimpin pasar. Meski demikian, CCNA ini bisa dianggap sebagai dasar kualifikasi kemampuan dasar-dasar teori jaringan seseorang. Biarpun di depannya ada embel-embel “Cisco” bukan berarti murni untuk kualifikasi ini seseorang harus jago Cisco saja. Malahan justru yang paling banyak diujikan dalam ujian ini adalah dasar jaringan itu sendiri, seperti OSI 7 layer, IP addressing, dasar-dasar routing dan switching, roting protocol, dan beberapa topik terkini seperti wireless dan security. Topik-topik dasar seperti ini sangatlah vital bagi seseorang yang berkecimpung di dunia jaringan seperti saya atau bagi yang ingin mengambil sertifikasi lanjutan seperti CCNP, CCDA, CCDP, bahkan CCIE. Ibarat seorang anak, CCNA ini adalah Sekolah Dasar, jadi bayangkan, bagaimana mungkin orang bisa memecahkan persamaan kuadrat kalo dasar matematika seperti kali bagi tambah kurang tidak dikuasai.

Jadi, bagi yang mau mengambil CCNA juga, maka saya sarankan untuk mempelajari dasar-dasar jaringan, terutama bagaimana aliran data di OSI 7 layer, karena ini terbukti menjadi dasar yang amat vital dalam mempelajari kerja jaringan. Percayalah, sertifikasi seperti ini akan menjadi modal yang baik untuk memulai karir di bidang networking. Kalau bisa diambil ketika masih kuliah bagus, kalau diambil abis lulus juga tidak apa, tapi lebih cepat lebih baik 🙂 Mudah? Sangat! Bayangkan, teman saya yang sarjana hukum, bisa punya sertifikasi CCNA ini. Tunggu apa lagi? 🙂

Musisi dan Engineer Seharusnya Bisa Menjadi 2 Profesi yang Saling Melengkapi

Beberapa waktu yang lalu saya menonton video wawancara dengan deadmau5, seorang DJ nyentrik dari Kanada yang prestasinya cukup gemilang. Dalam wawancara itu dia sempat berkata bagaimana dia bekerja sama dengan pembuat monome, sebuah kontroler yang menggunakan protokol OSC, untuk membuat monome mengendalikan Ableton Live. Pada proses itu dia berkata kalau dia juga melakukan programming dengan Python untuk mencapai tujuannya. Wow. Saya tidak menyangka kalau ternyata menjadi DJ jaman sekarang pun, musti punya pengetahuan soal progaramming seperti ini.

Kasus lain ialah Trent Reznor, si mastermind Nine Inch Nails. Saya membaca di salah satu tweet-nya, kalau dia sedang membuat aplikasi NIN untuk iPhone. Wow. Apapula ini? Meskipun saya sering mendengar dia memang hobi mengutak-atik hardware dan software, saya tidak menyangka kalau dia sampai benar-benar membuat aplikasi.

Dari dua kejadian itu saya pun mengambil kesimpulan, kalau di era di mana teknologi alat musik sudah maju sedemikian pesat, nampaknya pengetahuan sebagai engineer khususnya di bidang elektro atau komputer nampaknya memang cukup vital. Terlebih ketika banyak software maupun hardware musik yang mendorong eksplorasitidak hanya dari segi teknis pemakaian tapi juga teknis pembuatan untuk mendorong adanya bentuk interaksi baru dalam menghasilkan musik.

Contoh nyata dari itu semua adalah banyaknya software dan hardware musik yang bersifat open source. Perkembangannya pun begitu pesat. Monome, x0b0x, MIDIBox, adalah sebagian dari open source hardware yang bisa digunakan untuk bermusik. Pengembangan dari masing-masing ini pun begitu banyak hingga menghasilkan berbagai macam alat dengan berbagai fungsi. Di software juga demikian. Pure Data dan Processing adalah 2 contoh kecil software open source yang begitu hebat ketika digunakan untuk bermusik. Penggunaan alat-alat ini memang tidak murni mengharuskan orang untuk bisa programming, tapi ketika kita akan membuat semua perangkat bekerja menurut keinginan kita, maka keterampilan dalam memaksa komputer, atau hardware pada umumnya, untuk bekerja sesuai desain dan keinginan kita, menjadi sesuatu yang cukup esensial.

Mungkin pembicaraan ini lebih banyak ke arah konsep teknikal. Karena betapapun hebatnya sebuah alat, pada akhirnya ia akan nampak berbeda jika dipakai oleh orang yang tepat. Alat musik akan lebih terasa hebatnya kalau berada di tangan seorang yang kreatif dan berjiwa seni tinggi. Nah, ini juga yang menurut saya musisi dan engineer mustinya saling melengkapi. Jiwa kreatif akan membuat seorang engineer lebih bisa memecahkan masalah sementara dengan skill seorang engineer, seorang musisi bisa merealisasikan khayalan seninya. Menarik.

Kalau sudah begini, ingin rasanya mengambil waktu luang untuk mengutak-atik komputer, melakukan sedikit coding sana-sini untuk membuat musik 🙂