My top 20 tracks from the last 3 months

So basically these are the tunes that accompanied me after exhausting those office hours. 3 months are relevant enough, therefore I guess I still love listening to any of these songs these days. This data is as testified by last.fm 😀

1. 3 Inches of Blood – Battles and Brotherhood
2. Steve Aoki – Shake And Pop (Feat. Kid Sister, With Green Velvet)
3. 3 Inches of Blood – Call of the Hammer
4. Job for a Cowboy – Regurgitated Disinformation
5. The Black Dahlia Murder – Christ Deformed
6. Yelle – Je Veux Te Voir
7. Coheed and Cambria – Welcome Home
8. The Black Dahlia Murder – I Will Return
9. 3 Inches of Blood – Rock In Hell
10. The Black Dahlia Murder – Death Panorama
11. Yelle – Amour Du Sol
12. The Black Dahlia Murder – Throne Of Lunacy
13. The Black Dahlia Murder – Eyes Of Thousand
14. 3 Inches of Blood – Silent Killer
15. Mr. Oizo – Minuteman’s Pulse
16. Job for a Cowboy – March To Global Enslavement
17. Himsa – Summon In Thunder
18. Yelle – Mal Poli
19. Killswitch Engage – Holy Diver (Dio Cover)
20. Brand New – Good to Know That If I Ever Need Attention All I Have to Do Is Die

Dominated by The Black Dahlia Murder, 3 Inches of Blood, and Yelle, hahaha… Hmm…i should make a mixtape 🙂

5 hal yang belum sempat saya lakukan selama jadi mahasiswa ITB

Wah tak terasa sudah nyari setahun saya diwisuda dari ITB tercinta. Sudah ini itu saya lakukan selama jadi mahasiswa, tapi ternyata masih ada beberapa hal yang tertinggal. Untuk merayakan itu, saya mendaftar 5 hal yang belum sempat saya lakukan selama jadi mahasiswa ITB. Tentu saja nggak cuma 5 ini saja, tapi ya ini 5 hal yang pertama terlintas di kepala saya kalau ditanya “belum ngapain aja selama di ITB?” So, ini dia hasil mengenang masa lalu 🙂

1. Jalan-jalan ke kebon binatang Tamansari

Sebegitu deketnya kebon binatang ama kampus, tinggal gelinding doang, tapi saya belum pernah menyambangi tuh tempat. Entah kenapa, kayanya lupa, biarpun pernah diniatin, haha…

2. Jadi pengawas ujian

Nah kalau yang ini selalu karena enggak tahu jadwal pendaftaran jadi pengawas. Kalau buat ngawas ujian TPB (mahasiswa tingkat 1) sih emang nggak bisa, karena harus jadi asisten lab dasar dulu. Sampai sekarang saya nggak tahu apa rasanya ya jadi pengawas ujian. Tapi pastinya sih lebih serius daripada jadi asisten lab yang bisa “cengos” 😛 Padahal saya sudah menyiapkan sejuta aksi buat dilakuin kalao mergokin anak yang ketauan nyontek. Sayang rencana tinggal rencana.

3. Minjem buku di perpustakaan

Gimana mau minjem buku kalau ke perpustakaan aja nggak pernah, haha… Sekalinya ke perpustakaan cuma buat ngurus kartu bebas pinjam sebagai syarat buat daftar ulang semester baru. Sekalinya saya sering mendatangi perpustakaan itu pas semester 7 buat nyari bahan Tugas Akhir. Tapi ya itu juga akhirnya tidur, ya uda deh… 😛

4. Nginep di lab pas jaman Tugas Akhir

Kalau yang ini karena saya butuh tempat yang luas dan ketenangan dalam mengerjakan tugas akhir. Bukan apa-apa, emang TA-nya kaya gitu, butuh tempat luas buat diujicobakan. Jadinya ya udah , kebetulan di rumah ada space yang pas, ngerjain TA-nya di rumah terus deh

5. IP 4 di satu semester

Hahaha…kalau soal ini, teman-teman ITB angkatan 2004 pasti ingat kalau pas masuk, rektor kita waktu itu, Pak Kusmayanto Kadiman, pernah bilang parameter keberhasilan mahasiswa itu ada3:  lulus tepat waktu, IP 4 dan gaul. Sayang, dari itu semua, kayanya yang paling jauh dari genggaman saya ya IP 4 itu. Boror-boro IP 4, buat dapet IP di atas 3 aja baru semester 6 ke atas, hahaha… Dasar pemalas :p

Ya itu dia daftarnya. Bagaimana dengan rekan-rekan? Ada yang punya top5 yang lain? hihi…

Manohara? Tidak Tidak Tidak

Oke, postingan ini mungkin akan terasa sedikit basi, tapi apapun itu, saya cuma ingin sekedar membagi pemikiran saya ke dunia maya, hehehe…

Seminggu ini, kasus Manohara benar-benar diekspos secara berlebihan oleh media massa lokal. Mulai dari koran, TV, tabloid, situs berita, semua memuat Manohara, entah di sampul, berita utama, atau di bagian lain selain bagian olahraga dan bisnis. Semua memberikan berita terbaru soal kasus yang sempat menghebohkan penduduk Indonesia ini. Jadi semakin heboh karena menyangkut penculikan, kekerasan seksual, kerajaan Malaysia (yang hubungan dengan negara ini juga sedang kurang baik) dan air mata ibu. Nggak heran kalau kasus ini jadi topik yang sangat disukai banyak orang sehingga media pun berlomba-lomba memberitakan gadis cantik ini.

Tapi terus terang saya tidak setuju kalau Manohara terus-menerus diberitakan. For instance, apa sih prestasinya dia sampai kita terus-menerus diberitakan? Kira-kira apa ya bedanya kasus dia dengan kasus ratusan anak gadis dari kampung yang diculik lantas dijadikan pelacur di negara lain? Lalu untuk apa dia dimunculkan di media massa dengan frekuensi pemberitaan yang tinggi itu? Ada nggak sih influens baik untuk yang menonton? Jangan-jangan nanti anak kecil yang nonton kalau sudah besar ingin diculik keluarga kerajaan negara lain cuma biar bisa masuk TV, hehe…

Coba kita bandingkan dengan prestasi anak muda lain yang umurnya sama dengan Manohara. Sejak beberapa tahun yang lalu, ada banyak sekali pelajar yang menjadi juara olimpiade sains, di level internasional. Salah satu cerita mungkin bisa dilihat di sini . Tapi tanpa perlu googling, bisa nggak kita menyebutkan nama pelajar hebat itu? Saya yakin banyak dari kita tidak akan bisa. Padahal, andai saja cerita-cerita sukses generasi muda ini bisa diberitakan dengan cukup sering, saya cukup yakin, banyak pelajar bisa terinspirasi untuk meningkatkan prestasinya, terutama di bidang akademis. Merasa tidak cukup pintar? Bagaimana kalau saya berikan link ini di mana diberitakan Indonesia menjuarai ASEAN Primary School Sport Olympiad. Prestasi-prestasi ini lah yang seharusnya diberitakan media massa.

Saya rasa kasihan itu wajar, tapi kalau terus-menerus kasihan terhadap 1 orang, itu namanya sudah jadi komoditas jualan. Negara ini masih negara dunia ketiga, masih berkembang, dan perkembangan itu bisa terhambat kalau generasi muda dibius cerita-cerita sedih terus-terusan. Berikanlah apresiasi terhadap mereka yang sudah mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Sekaligus berikan cerita kepahlawanan kepada anak-anak muda yang butuh asupan inspirasi. Cukup sudah berita Manohara-nya.

menikmati akhir pekan di jakarta

Hore, setelah sekian lama akhirnya bisa juga saya berakhir pekan di Jakarta. Sejenak beristirahat, benar-benar istirahat dari aktivitas di kantor. Bangun siang, dan kemudian menyampah di dunia maya. Senangnya. Biasanya ada saja hal yang membuat saya wajib datang ke Bandung, terutama buat ngeband, hehehe. Berhubung kegiatan bermusik sedang kosong, jadi ya saya manfaatkan saja liburan ini untuk leyeh-leyeh di rumah.

Well, tidak sepepnuhnya di rumah juga sih. Kemarin juga saya sempat menonton Angels and Demons bersama Anggi, Baskara, Angga dan pacar saya. Filmnya cukup menarik, meskipun tidak se-mikir DaVinci Code (for better or for worse). Tapi at least film ini cukup ironis menurut saya, terlepas dari bagaimana versi novelnya yang saya sendiri juga belum pernah baca. Lucu melihat bagaimana Paus, pemimpin umat Katolik di dunia diselamatkan oleh seorang Atheis. Ini semacam ledekan halus atau apa? Sebagai sesama umat beragama sejujurnya saya cukup miris melihat penggambaran agama di film-film Hollywood kebanyakan. Sungguh sebuah komoditas jualan. Kemudian penggambaran Illuminati yang sedemikian positif. Wow, pasti ada apa-apanya nih. Kalau yang sudah pernah nonton The Arrivals pasti tahu apa yang saya maksud, kalau belum, cepat buka http://www.wakeupproject.com dan tonton seri The Arrivals, hehe.. Yang saya senang dari film itu cuma ketika Ewan McGregor tidak jadi Paus (ups, spoiler buat yang belum nonton, rasain! hahahaha). Soalnya tidak kebayang, dia yang dulu berperan jadi pemadat di Trainspotting masa sekarang menjadi Paus, wah bisa gila 😛

But anyway, jadinya dari kemaren sampai sekarang (potong waktu tidur ya) saya kembali di depan komputer, menghabiskan waktu. Melihat skor sepakbola. Melihat Inter, Barcelona dan Manchester United menjadi juara di masing-masing liga (selamat!). Membuka banyak video DJ di youtube, dan mencari artikel-artikel menarik di createdigitalmusic.com. Ya intinya, weekend yang cukup untuk memulihkan tenaga 🙂

Cheers everyone

Membandingkan Animo Penonton Bioskop di Jakarta dan Bioskop di Bandung

Kemarin saya dan pacar berniat nonton Angels and Demons. Rencananya, pacar akan menjemput begitu saya pulang kantor, dan tergantung dari jam berapa saya keluar, kit abisa nonton di Plaza Semanggi jam 17.45, atau di Setiabudi jam 18.45. Ternyata, saya baru keluar kantor jam 18.03, jadinya kita pun memilih di Setiabudi. Sampai sana, oh ternyata penuh. Oke, perjalanan pun diubah dnegan memilih Pejaten Village jam 20.30, biar pulangnya nggak terlalu jauh. Sampai sana jam 20.00, ternyata tiket pun dusah habis. Hmm, hari pertama pemutaran film ini ternyata cukup menarik animo penduduk Jakarta. Padahal di waktu bersamaan, teman saya ngesms, katanya di PVJ angels and demons kosong abis, oh nooooo, hahahaha, saya jadi pengen tinggal di Bandung lagi deh 🙂

Kemudian saya ingat-ingat lagi, teman saya pernah cerita kalau ketika dia mau nonton The Fast and The Furious, antriannya bisa panjang banget buat dapet yang entah jam berapa. Saya juga ingat, dulu pernah pindah-pindah bioskop sampai 3 kali cuma buat nonton Laskar Pelangi (padahal udah beberapa minggu sejak pemutaran perdana).

Kalau dibandingkan, waktu jaman kuliah di Bandung, kayanya animo buat menonton film ketika baru mulai diputar, nampaknya lebih rendah. Buktinya, kalau mau menonton film di bioskop, kayanya saya belum pernah sesusah ini deh. Ya mungkin sekali-dua kali lah, tapi itu juga tidak separah di Jakarta, yang mana seringkali setiap mau menonton film, (terutama film yang baru diputar) tiket sudah habis.

Dugaan saya terhadap fakta ini ada beberapa:
1. Orang di Jakarta cenderung lebih butuh hiburan, sehingga begitu ada film baru keluar, langsung diburu sedemikian rupa.
2. Ini juga menyiratkan kebutuhan orang Jakarta untuk selalu up to date lebih tinggi. Secara habit menurut saya, orang Bandung lebih bisa menciptakan trend ketimbang orang Jakarta yang lebih cenderung mengikuti trend.
3. Di lain pihak karena seringkali film yang masuk ke Bandung lebih telat dari di Jakarta, bisa jadi orang Bandung yang tadinya mau nonton, jadi batal gara2 sudah mendapat rekomendasi dari rekannya yang berada di Jakarta.
4. Kalau diperhatikan, bioskop selalu berada di tempat pusat keramaian seperti mall. Nah, di Jakarta sendiri, posisi mall sebagai tempat berkumpul sangatlah vital. Sebagai tempat bersosialisasi, posisi mall di Jakarta memang belum tergantikan. Beda dengan di Bandung, di mana menurut saya, orang-orangnya lebih senang buat berkumpul di tempat-tempat nongkrong biasa, entah di rumah seseorang, atau di warung siapa. Ini berakibat, animo buat ke bioskop juga sedikit lebih rendah di Bandung dibandingkan di Jakarta.

Hauh, pemikiran yang sangat subjektif. Saya terlalu menggeneralisir nampaknya. Jadi kalau saya bilang “orang Jakarta”, berarti saya merefer ke “kebanyakan orang Jakarta”, hehehe…

Maaf kalau postingan ini bisa menyinggung, tapi ini hanya pemikiran saya. Just my 2 cents 🙂 Ada yang punya pendapat lain? Silakan berbagi 🙂

Cheers

finding fixed income sucks, but the fixed income itself is good!

Hoke, mari kita rayakan. Sudah 3 bulan ini saya bekerja sebagai konsultan OSS di sebuah perusahaan IT di Jakarta. Saya tidak akan berbicara tentang bagaimana detail pekerjaan saya. Yang saya ingin ceritakan ialah bagaimana susahnya hidup di Indonesia.

Di negara ini, sebenarnya pilihan karir masa depan para pemuda usia bekerja seperti saya memang tidak terlalu banyak. Antara ingin membuka usaha sendiri atau bekerja di perusahaan milik orang lain. Yang jelas, pada akhirnya kita akan menjadi pencari nafkah bagi keluarga, dan mau tidak mau hal tersebut harus dimulai dari sekarang. Masalahnya, pilihan jalur nyeleneh seperti menjadi musisi, pemain sepak bola, atau sutradara sebenarnya juga tidak bisa dibilang aman untuk jangka panjang. Karena negara ini memang tidak pernah menghargai profesi informal semacam itu. Atas pertimbangan-pertimbangan tersebut maka saya pun memutuskan untuk bekerja di perusahaan orang sebagai jalan teraman dalam mencari pendapatan.Mengapa? Karena pada dasarnya kita cukup datang ke kantor, mengerjakan pekerjaan dan kemudian digaji. Simpel. Terlebih karena perusaahaan tempat saya bekerja bisa dibilang cukup mapan, sehingga apa yang akan dilakukan sebenarnya sudah punya roadmap yang jelas. Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian mudah.

Ternyata bekerja di Jakarta itu super berat. Ada saja yang membuat saya mengeluh ini itu. Dari mulai merenungi jadwal hidup yang super statis (berangkat naik busway jam 7, sampai kantor terjebak di cubicle, pulang naik busway jam 6, sampai rumah istirahat, besok diulang lagi), sampai ke memikirkan beberapa aspek teknis pekerjaan yang saya tidak suka, maklum masih idealis dan berpikiran sempit. Kondisi lalu liuntas Jakarta tidak dihitung ya, karena untuk soal itu saya pasrah, memang fitrahnya sudah amburadul.

Tapi setelah saya pikir-pikir, kenapa juga saya musti mengeluh. Dibilang membosankan ya pasti, tapi memang begitu namanya cari duit. Susah, berkeringat dan mengobrak-abrik emosi! Jadi dengan mulai membuka pikiran tentang aspek teknis pekerjaan, berangkat ke kantor dengan santai, saya pun perlahan menikmati pekerjaan. Dan ketika saya mengecek saldo tabungan dari gaji yang jumlahnya ternyata cukup untuk membeli barang yang saya inginkan, saya pun bisa berujar “it’s good. fixed income is good!”

Pentingnya Memperjelas Kebutuhan

Kalau ada satu hal yang saya pelajari dari mengerjakan Tugas Akhir saya, maka tak lain hal itu adalah pentingnya memperjelas apa yang dibutuhkan dari suatu sistem pada saat perancangan sistem tersebut. Dan percaya atau tidak, ternyata hal itu sangat membantu dalam kehidupan berkomputer saya sehari-hari.

Saya ambil contoh ketika saat ini space hardisk di PC dan Macbook saya mulai terasa sempit. Di PC, setiap saya ingin menginstalasi game baru, selalu saja ada yang harus saya hapus. Sementara Macbook saya terasa mulai sedikit melambat (tapi ini belum saya buktikan melalui pengukuran yang presisi, hanya perasaan saja). Kalau begitu berarti tidak ada jalan lain, operasi pembersihan hardisk harus segera dimulai. Namun pertanyaannya, apa yang harus dibersihkan?

Untuk itu saya membuat daftar, kegiatan apa saja yang biasa saya lakukan baik di PC maupun Macbook. Sehingga segala sesuatu yang berada di luar daftar itu bisa dihapus dengan aman. Dan inilah daftar itu:

– Ber-Internet (browsing, chatting, download melalui torrent)
– Memainkan file multimedia
– Programming (Java, C, C++)
– Membuat musik
– Game (Spore, FM 2009, PES 2009)
– Office
– Mengolah gambar

Dari situ kemudian saya memilah, mana saja yang bisa dilakukan di PC, mana yang bisa di Macbook, mana yang bisa di keduanya. Hei, kalau ada 2 tempat untuk bekerja, berarti mustinya tool yang dibutuhkan bisa disebar di 2 tempat dan tidak dibiarkan menumpuk di 1 tempat. Hasilnya, mengolah gambar, office dan game akan saya tetap fokuskan di PC, sementara untuk membuat musik saya fokuskan di Macbook saja. Ini karena selama pengalaman saya, membuat musik di Mac jauh lebih nyaman dibandingkan di PC Windows saya, dan memainkan game jauh lebih menyenangkan di PC. Office 2008 di Mac nampaknya bisa saya hilangkan untuk lebih menghemat ruang hardisk dan sebagai gantinya saya bisa menggunakan Neo Office yang lebih hemat ruang, mengingat pada akhirnya mungkin Macbook tidak akan digunakan untuk melakukan pembuatan dokumen yang rumit.

Beres semua, sekarang tinggal eksekusi. 🙂

Oh ya, ada 1 hal lagi yang bisa didapatkan dari memiliki list kebutuhan seperti ini. Ketika kita ingin menginstalasi OS baru, kita cukup melihat apakah OS yang diinginkan bisa memenuhi kebutuhan kita. Sebagai contoh, saya melihat kegiatan membuat dokumen, berinternet, programming serta membuat dan mendengarkan musik sebagai sebuah hal yang wajib bisa saya lakukan di sebuah OS. Maka dari itu ketika saya memutuskan untuk mencoba hidup dengan Ubuntu, saya tidak merasa kehilangan sesuatu, karena semua kebutuhan saya sudah ada di situ. Pun demikian ketika saya tiba-tiba penasaran ingin mencoba FreeBSD (yang hingga detik ini pun belum saya lakukan, baru sebatas ingin tahu) saya bisa menilai apakah sistem ini layak untuk dicoba atau tidak.

Akhir kata tentu saja, pemilihan sistem juga bergantung pada hardware apa yang akan digunakan. Namun, dengan memiliki spesifikasi kebutuhan yang jelas, kita akan lebih mudah memilih dan merancang sebuah sistem.

Nanggung bener..

hihi,lucu juga lihat tulisan ini di situs mail order blackmetal.com. Padahal emailnya udah ngaco, eh…kok yang ditulis alamat kampusnya, lengkap lagi. knapa ngga PO Box aja yah?

This ASSHOLE in INDONESIA submitted 12+ orders – all using a different person’s credit card number. He used the cardholder’s names and credit card numbers: Johnny Medlin, John O’Donnel, Julie Cipolla, Donald Schuler, Gregory Jordan, Francis Monaghan III, Rory Senna, Jeanne Graziani, Julian Slim jr, Dana Fong, Carlon Anderson, Mike Zelley. Yet wanted the orders shipped to Indonesia (YEAH RIGHT, DUDE). WHY DO THESE PEOPLE WASTE THEIR TIME AND OURS WITH THIS BULLSHIT???

anjing123456@themail.com
in unikom(university computer indonesia) in dipati ukur street no.112 bandung, westjava, indonesia 40132

WE DO NOT PROCESS CREDIT CARD ORDERS FROM INDONESIA, PAKISTAN, RUSSIA, EGYPT, MALAYSIA, TURKEY. PERIOD.

Stop Playing Online Game!

Yes itulah seruan saya buat orang-orang di sekitar saya. Menurut saya sudah terlalu banyak korban yang jatuh karena game online. Paling tidak dalam hidup saya, saya sudah melihat beberapa rekan-rekan saya gagal melaksanakan kewajibannya karena kebanyakan bermain game online.

Bermain game online memang berbeda dengan bermain game biasa. Karena model bisnis gamenya pun berbeda. Perusahaan game biasa dinilai kesuksesannya dari berapa banyak gamer yang membeli gem keluaran mereka, perkara setelah itu gamenya ngga dimainkan oleh pembeli, bukan urusan mereka. Sedangkan game online, kesuksesan pembuatnya dinilia dari berapa banyak user yang online setiap hari. Atau dengan akta lain berapa banyak yang memainkan. Itu saja sudah berbeda, makanya tidak heran kalau dibuatlah sistem permainan yang sedemikian adiktif sehingga para gamer online betah duduk berjam-jam (atau bahkan berhari-hari di depan komputer).

Jadi buat yang masih bermain, mungkin sudah saatnya dikurangi main gamenya, ingat kewajiban lain di dunia luar. Apalagi buat mahasiswa ITB. Inget lho, banyak banget anak yang pengen masuk ITB, tapi ngga bisa. Masa kita yang udah punya KTM ITB menyia-nyiakan waktu dengan login di server game terus? 😀