Dell Inspiron 7460 Review

For the past few months, the feeling of lugging around a 15-inch mid 2012 MacBook Pro has been something literally painful, especially for my back. I’m living a pretty mobile lifestyle now, where I have to go from one place to another, giving workshops, participating on events or attend meetings. Doing that with a 3 kg laptop on my backpack, is like asking for trouble in the future. It has been an issue for at least a year now, therefore, I’m on the market for something lighter but doesn’t hinder me from doing my regular coding practices, which most of the time, involves graphical programming.

Continue reading →

Review 5cm

Hari Minggu kemarin, istri saya mengajak menonton film ini, 5cm. Mungkin ini kesekian kalinya saya menonton film di bioskop tanpa tahu ceritanya apa. Agak enak buat saya, jadi saya tidak punya tendensi atau ekspektasi apa-apa terhadap sekumpulan visual yang akan saya saksikan. Bahkan saya tidak tahu pemerannya siapa saja, melihat posternya pun tidak. Yang saya tahu, film ini diadaptasi dari novel berjudul sama. Kebetulan, saya punya rekor buruk dalam membaca novel sampai habis. Namun faktanya hal itu tidak membuat saya sulit menikmati film-film seperti Lord of The Rings, The Ring, DaVinci Code, Angels & Demons atau bahkan Pintu Terlarang yang semua dibuat berdasarkan novel. Menurut saya, film yang diadaptasi dari novel, mustinya bisa berdiri sendiri, tanpa harus membuat calon penontonnya menyelesaikan bukunya. Idealnya malah si buku memberikan informasi yang lebih dalam ketimbang film, tapi tetap si film mampu dinikmati sebagai sebuah tontonan tersendiri yang memberikan pengalaman unik.

Singkat cerita, film ini mengisahkan 5 orang sahabat, Arial, Ian, Genta, Zafran dan Riani yang sudah berteman selama 10 tahun. Lucunya, mereka selalu berkumpul setiap akhir pekan, tanpa terlewatkan sekalipun. Mereka lalu memutuskan untuk “cuti” bertemu dulu selama 3 bulan dan merayakan pertemuan kembali mereka dengan cara yang spesial, mendaki Puncak Mahameru. Rencana ini sendiri dirancang oleh Genta dan dirahasiakan ke 4 teman lainnya. Ia hanya berpesan kalau mereka akan bertemu di Stasiun Senen tanggal 14 Agustus. Mereka bertemu di sana, Arial juga mengajak adiknya, Dinda, turut serta. Maka, dimulailah inti perjalanan mereka.

Persahabatan memang topik yang tiada habisnya digali untuk dijadikan bahan film. Topik ini bisa dibungkus dalam berbagai genre, sebagai upaya menarik simpati penonton ke para karakternya, sehingga emosi mereka bisa habis dimainkan oleh sang sutradara. Dan jeleknya, di titik inilah 5cm gagal. Sampai ke akhir film, terlihat tidak ada usaha yang jelas untuk membangun konflik atau setingkat di bawah itu, membuat para karakter-karakter, sebagai sebuah kesatuan persahabatan, menarik simpati penonton. Kelima karakter dibanguns secara komikal dan trivial, Ian adalah tokoh lucu yang menggemaskan, Zafran pujangga kapiran, Genta si serius, Riani, yah, cewek banget (sampai bingung harus mendeskripsikan apa, Arial si jantan yang takut cewek (serius? cuma ini karakternya?) dan Dinda yang lebih sulit lagi mendeskripsikannya. Untuk film dengan karakter utama sesedikit itu dengan penekanan ke persahabatan, seharusnya penggalian karakter bisa lebih dalam lagi. Dan itu baru masalah parsial.

Masalah sebenarnya, untuk 5 karakter yang diceritakan sudah bersahabat selama 10 tahun yang intens bertemu, kelima aktor gagal total merepresentasikan kedekatan mereka. Kaku, tidak ada kesan akrab dan yang ada malah saling malu. Dialog mereka juga patah-patah, minim sekali chemistry di antara mereka. Tokoh Ian dan Zafran mungkin bisa sedikit dibilang berhasil, tapi itu baru 2 dari 5. Ketika mereka berlima digabung dalam 1 frame, yang ada justru komunikasi datar. Coba bandingkan dengan film yang sekilas lebih dangkal, Napoleon Dynamite. Tonton film itu dan coba amati bagaimana ada chemistry, ada ikatan antara Pedro dan Napoleon. Meskipun keduanya diceritakan sebagai idiot yang baru saja kenal.

Kalau masalah se-fundamental itu gagal, maka tidak heran ketika film ini mencapai adegan klimaks, saya sangat tidak tersentuh. Pun ketika ada sedikit musibah yang menimpa salah satu dari mereka, sulit untuk terharu atau sedih, karena ya itu, tidak ada kedekatan emosional dengan para tokoh. Puncak dari semua kekacauan ini adalah ketika mereka meneriakkan dengan lantang pesan-pesan nasionalisme yang malah membuat saya makin mengernyitkan dahi. Sungguh? Apa hubungannya semua persahabatan ini dengan nasionalisme? Apa sih pesan dari film ini sebenarnya?

Kalau boleh disingkat, film ini murni berisi tempelan-tempelan yang inkoheren di sana sini. Tempelan karakter, tempelan latar belakang, tempelan puisi, tempelan line dialog yang “tweet-able”, tempelan komedi, hingga ke tempelan nasionalisme. Hell, bahkan audionya pun di beberapa adegan ditempel dengan tidak rapih. Cek adegan saat mereka berlima berkumpul di rumah Arial, itu audionya di-mix dengan sangat tidak rapih hingga ke tingkat mengganggu saya yang jarang memperhatikan detail. Mungkin satu-satunya tempelan yang berhasil ya tempelan visual pemandangan Semeru yang menakjubkan. Tapi kalau murni mau melihat itu ya lebih baik disajikan saja dalam bentuk dokumenter yang niat, ketimbang film tempelan seperti ini.

Kesimpulan: film drama yang datar. Sulit untuk mengapresiasi film seperti ini. Sedikit tertolong dengan visual indah, tapi itu tidak berarti banyak.

Ponten: 4/10.

Review Film: The Raid

Ada satu momen yang jarang sekali gw alami ketika gw menonton film: ketika gw memasang ekspektasi yang tinggi terhadap sebuah film, dan ternyata ekspektasi itu terpenuhi. Sejujurnya gw ingin sekali bersikap netral sebelum menonton film ini, namun apa daya, ketika gw membuka Twitter, ada saja yang memberitahu bahwa film ini mendapat rating 95% di Rotten Tomatoes, atau masuk 30 besar IMDB, atau disebut-sebut sebagai film action terbaik dalam beberapa tahun belakangan. Otomatis, gw berharap bahwa film yang akan gw tonton bersama-sama teman-teman gw ini adalah film Indonesia yang memang bagus. Kalau malas baca review ini sampai habis, saya akan bilang, ekspektasi saya terpenuhi.

Dari sisi cerita, film ini memang super sederhana. Sekelompok pasukan khusus polisi, menyerbu apartemen yang dikuasai gembong penjahat bernama Tama untuk menangkap dan mengusir dia dari apartemen itu. Tentu saja konflik tidak terhindarkan, baku hantam terjadi di dalam gedung hingga akhirnya sang gembong tertangkap. Ada konflik-konflik lain yang tidak ingin saya kemukakan di sini, tapi intinya cukup demikian. Namun si sutradara rupanya berhasil membungkus cerita yang sedemikian dengan kemasan yang penuh, amat penuh, dengan aksi keras tanpa tedeng aling-aling.

Kalau anda menyangka ini hanya sebuah film action normal ala Hollywood, anda akan kecewa. Awalnya memang ada baku tembak, namun, film ini seolah-olah ingin mengatakan “saatnya film betul-betul dimulai” saat para polisi kehabisan peluru dan pertarungan mulai dilakukan dengan tangan kosong, pisau atau baton. Kalau di film Hollywood mungkin ketika peluru habis, para polisi mulai panik dan teriak “we’re running out of bullets, what should we do?” Lain halnya di sini. Para polisi justru santai, bersikap wajar dan terus melaju. Jantan.

Saya ingin mendedikasikan paragraf ini untuk menekankan betapa pertarungan tangan kosong adalah inti film ini. Kalau anda rindu dengan film action bela diri seperti film Hong Kong era 80-90an atau film Van Damme, pasti anda akan puas. Tercatat, setengah babak kedua film ini, memang diisi dengan pertarungan tangan kosong antara si jagoan, Rama, dengan para penjahat yang menghuni apartemen itu. Menurut saya, pertarungan ini justru membuat film ini nampak benar-benar nyata. Dengan setting film di Indonesia, hal ini adalah sesuatu yang sangat masuk akal. Di negara di mana senjata api tidak diperdagangkan secara bebas, tentu saja menjadi logis kalau sekumpulan penjhat menyimpan golok atau pisau di apartemennya, ketimbang sebuah shotgun atau handgun.

Untuk sebuah film yang mungkin hanya berisi 30 menit dialog, dan difokuskan secara efisien di aspek aksinya, perkelahian juga menjadi sebuah senjata yang bisa diandalkan untuk membuat film mengalir. Pertarungan intens yang dilakukan para aktor yang memang menguasai bela diri dan di-koreografi-kan dengan mantap berhasil membuat film hidup dan tidak sedikitpun membosankan. Berbeda dengan film umum yang mengandalkan dialog verbal antar tokoh, para tokoh The Raid justru berdialog melalui pukulan, tendangan, kuncian ataupun bantingan. Melalui paket aksi-aksi fisik nan keras inilah para penonton secara implisit diajak untuk mengenal para tokoh lebih dekat. Tidak heran kalau saya justru menaruh simpati pada tokoh penjahat Mad Dog, yang meskipun kejam dan handal luar biasa, kekalahannya tidak membuat saya berteriak “mati lu!” seperti ketika Bolo Yeung kalah di Blood Sport. Justru tepuk tangan simpati lah yang keluar dari badan saya ketika Mad Dog dikalahkan oleh pasangan Rama dan Andi, kakaknya.

Dengan jumlah pertarungan yang sangat banyak, memang akan menjadi sangat tricky untuk mengatur tempo dan dinamisme film. Untuk itu saya mengacungkan jempol yang sangat banyak kepada sang sutradara yang berhasil mengatur tempo setiap pertarungan dan mengatur jeda antar pertarungan, sehingga penonton diberi kesempatan untuk bernapas dan mengapresiasi pertarungan yang baru saja usai. Tak hanya itu, hiighlight setiap pertarungan, seperti ketika Rama membunuh salah satu geng Papua dengan menarik kepalanya dan menjatuhkannya tepat di patahan pintu, atau ketika Mad Dog mematahkan leher Jaka, tereksekusi dengan indah dan penekanan yang tepat.

Film ini juga berisi momen-momen kecil yang bisa mencuri perhatian saya. Geng Papua yang disebutkan sebelumnya nampak sungguh berkarakter, lengkap dengan logat Timurnya. Atau ketika Mad Dog memulai pertarungan melawan Jaka dengan meletakkan pistolnya sambil berkata “kalau begini sih nggak ada gregetnya”, lalu, menaikkan kedua tangan kosongnya ke atas seraya mengucapkan “ini baru ada gregetnya”, yang menurut saya benar-benar pesan literal kalau film ini lebih jantan dari sekedar film action adu tembak biasa. Pun dengan fakta bahwa sekelompok pasukan khusus ini tidak membawa bahan peledak. Satu-satunya ledakan terjadi ketika kulkas berisi gas ditembak. Detail-detail kecil ini yang membuat film benar-benar hidup dan nyata di mata saya. Sehingga saya tidak kesulitan untuk berempati dengan para tokoh-tokohnya.

Kalau ada kekurangan, mungkin adanya justru di artikulasi para aktor ketika mengucapkan dialog dengan cepat. Entah dikarenakan sang sutradara bukan native Bahasa speaker, sehingga hal-hal seperti itu jadi luput, atau karena hal lain. Yang jelas, cukup mengganggu ketika saya ingin mendengar dialognya. Tapi, masa bodoh, yang penting tinjunya bung!

Singkat kata, mulai kemarin, saya punya satuan baru pengukuran kerasnya sebuah film action. Satuan itu saya namakan The Raid. Rambo 4 itu kira-kira 3/4 The Raid (banyak darah, tapi masih pake senjata). Blood Sport: 1/2 The Raid (terlalu banyak dialog). Ninja Assassin:3/5 The Raid (masih pakai pedang, masih ada kisah cinta konyol). Yang pasti, saya akan menonton film ini lagi. Saya masih ingin mengupas lapisan demi lapisan seni film ini yang disajikan melalui adu jotos para pemerannya.

Masterpiece sinema Indonesia. Film action terbaik yang pernah saya lihat. Salah satu (jika bukan) film yang terbaik di tahun ini.

Komunal

Gig Review: Rolling Stone Release Party, 10 April 2010

Rolling Stone Release Party, sebuah acara rutin yang digelar oleh majalah Rolling Stone Indonesia (RSI). Ini pertama kali saya datang ke acara ini. Komunal dan Seringai, 2 band favorit saya akan tampil malam ini, menjadi magnet yang cukup kuat bagi saya untuk pulang cepat tepat waktu dan bergegas menuju venue di Ampera Raya 16, kantor Rolling Stone Indonesia. Selain mereka berdua, masih ada The Authentics, band ska yang cukup sering manggung belakangan ini (dan saya juga cukup penasaran ingin melihat aksi mereka) serta Project The Fly (saya nggak peduli ini siapa).

Saya tiba pukul 8 lebih sedikit, acara belum dimulai, saya langsung membeli tiket, dan oh, ada bonus rupanya, 50 merchandise Ouval Research bagi 50 pengunjung pertama, yang mana saya rupanya adalah pengungjung ke-50. Jadi, mohon maaf bagi yang mengantri di belakang saya. Sempat melihat Ricky Siahaan, gitaris Seringai yang juga penulis di RSI, agak terbersit di otak saya ingin menyapanya dan berkata “Mas, saya mau dong nulis buat Rolling stone, tapi gimana caranya ya?” dan entah mengapa pertanyaan itu tidak jadi saya lontarkan.

Continue reading →

Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress

Review Album: Tika and The Dissidents – The Headless Songstress

Mari saya mulai review ini dengan membandingkan Tika and The Dissidents dengan Lamb of God. Bulan Maret lalu, Lamb of God, salah satu band metal yang saya sukai datang ke Jakarta dan tentunya mengadakan konser di sini. Hasilnya, saya kecewa karena mereka bermain tanpa perasaan. Beberapa minggu kemudian saya membeli CD album terakhir mereka, Wrath. Hasilnya, saya kecewa dua kali.

Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan menyaksikan Tika and The Dissidents dalam format akustik di sebuah daerah di Senayan. Hasilnya, saya tercengang, bagus banget! Dan akhirnya saya pun membeli album terbaru mereka, The Headless Songstress, dan bisa ditebak saya tercengang kembali.

The Headless Songstress adalah sebuah album yang dibuat dengan hati. Setiap lagunya dikomposisi secara hati-hati, perlahan-lahan, setiap detail diperhatikan betul, setiap sound yang muncul ditempatkan di tempat yang pas. Saya selalu kagum dengan album yang menampilkan instrumentasi yang tidak standar (baca: gitar, bass drum), namun ada kalanya instrumentasi tersebut ditempatkan hanya untuk menambah nilai jual. Berbeda di sini, setiap nada yang muncul entah itu dari harmonika, akordion, horn section atau lainnya memang diberikan peran signifikan masing-masing. Bahkan paduan suara pun dijadikan instrumen tersendiri.

Continue reading →

Review Album: Pee Wee Gaskins – The Sophomore

Sebagai bagian dari penutup tahun 2009 yang indah ini. apres! ITB membuat daftar album terbaik indonesia tahun 2009, kebetulan saya mendapat bagian untuk mereview album dari Pee Wee Gaskins dan Tika. So, inilah review untuk album Pee Wee Gaskins. (note: link ke list 10 album terbaiknya akan saya cantumkan setelah artikelnya beres, anggap saja ini pemanasan, hehe…)

==========================================

Review Album:
Pee Wee Gaskins – Sophomore


Pada saat saya menulis review ini, seharusnya komparasi antara Pee Wee Gaskins (PWG) dengan band-band pop-punk seperti The Get Up Kids, New Found Glory, atau bahkan Rocket Rockers seharusnya sudah tidak lagi dikemukakan. Sebagai sebuah band tahun ini mereka sudah mencapai level selanjutnya. Sejujurnya saya agak-agak terlewat mengapa mereka bisa sebesar sekarang. Saya tidak tahu apakah fenomena munculnya sekumpulan anak-anak ABG labil yang berdandan dengan topi merah (tidak dibalik) bertuliskan “Dork”, berkaos cerah, bercelana jins dan bersepatu cerah juga yang menamakan diri mereka (atau dinamakan?) Party Dorks itu murni disebabkan oleh kekuatan musik dari PWG atau apakah ini keberhasilan promosi dari PWG? Belum lagi ketika mengetahui bahwa sudah ada yang namanya Anti Pee Wee Gaskins, aih, itu semua tanda kalau band ini memang sudah besar.

Maka dari itu, meskipun saya amat sangat yakin kalau album ini bukan dibuat untuk pria seumuran saya, saya memaksa diri saya untuk membeli albumnya dan kemudian mereviewnya. Saya akan terjun langsung ke jualan utama mereka: musiknya. Saya tidak akan mempertimbangkan bagaimana perilaku personil band ini di atas dan di luar panggung, saya tidak akan menyinggung performa live mereka, saya hanya akan menilai album Sophomore mereka ini. Anggap saya sedang mengulas nasi goreng buatan Angie, si wanita tuna susila. Saya tahu kelakuan si Angie ini minus, tapi kalau sedang menilai nasi gorengnya, mustinya ya hanya nasi gorengnya yang jadi bahan penilaian saya.

Continue reading →

Review Film: Zombieland (2009)

Zombie, ya, zombie. Sebuah objek (atau subjek?) yang seringkali diangkat ke layar kaca sebagai inti dari film horor. Belakangan ini, film zombie juga menjadi trend tersendiri, silakan ingat kembali, berapa banyak film zombie yang masuk bioskop (atau nggak masuk sehingga ujug-ujug sudah ada aja dvd-nya di ITC Kuningan) dalam 5 tahun terakhir ini. Beberapa film mengangkat zombie sebagai sebuah topik inti dari dari film horor, bagaimana seorang jagoan bertahan di tengah-tengah serangan ribuan makhluk mengerikan. Beberapa justru mengangkat tema bertahan hidup tadi dengan caranya sendiri, dari yang satir seperti Dance of The Dead (2009), Shaun of the Dead (2004) hingga yang super nyeleneh: menjadikan zombie hewan peliharaan di film Fido (2006).

Jadi, tidak heran kalau di tahun ini, muncullah film seperti Zombieland. Film yang sebelum dirilis juga cukup menghasilkan hype yang sangat besar, hingga ketika dirilis film ini pun bisa menduduki peringkat box office tertinggi untuk film zombie, mengalahkan remake Dawn of the Dead (2005). Kalau begitu, sebagai seorang pecinta film zombie, wajar dong kalau film ini menjadi film yang sangat saya tunggu. Maka, hari ini, di tengah hari istirahat saya pun menyempatkan diri menonton film ini di sebuah bioskop di kawasan Sudirman.

Continue reading →

Review Film Singkat: The Ugly Truth (2009)

Tumben-tumbenan nih saya nonton romantic comedy. Biasanya saya alergi banget nonton film genre ini. Selain karena plot yang standar, beberapa pakem-pakem romantic comedy menurut saya sangat basi dan membuat alur film menjadi mudah ditebak. Tapi, kalau boleh jujur, The Ugly Truth adalah film yang tunggu sejak saya melihat trailernya. Magnet dari Katherine Heigl dan Gerard Butler cukup untuk menarik saya ke bioskop. Sejak melihat Katherine Heigl di film Knocked Up, saya sudah tertarik untuk mengikuti kiprahnya di dunia Hollywood. Sementara itu, Gerard Butler adalah salah satu aktor yang menurut saya cukup punya attitude unik. Jadi ketika keduanya bermain di satu film, saya merasa akan ada chemistry di antara keduanya. Belum lagi premis bahwa film ini membeberkan semua yang ada di pikiran laki-laki. “Oke, saya terpukau, saya akan menunggu film ini”, begitu yang ada di pikiran saya sebelum film ini dirilis.

Kenyataannya, begitu film ini dimulai hingga sampai 2/3 film, saya dibuat terhibur. Banyak sekali adegan-adegan kocak ditampilkan. Sangat mengocok perut. Sedikit lelucon jorok membuat film ini nampak memang ditujukan untuk merangkul segmen penonton pria dewasa. Belum lagi ketika tokoh yang diperankan Gerard Butler memberitahukan sebenarnya apa sih yang ada di pikiran cowo. Yes, you got me there. You are 100% right. I’m impressed.

Sayangnya, memasuki akhir-akhir film, nampak cerita mulai kendor. Beberapa klise-klise a la romantic comedy mulai dikeluarkan. Sayang sekali. Endingnya sangat tidak klimaks, jalan ke ending itu pun dibuat kurang seru, karena sangat mengikuti “aturan baku romantic comedy”. Pun ketika sutradara nampak ingin memutar balikkan posisi Gerard – Katherine. Gerard yang tadinya diposisikan sebagai si pria berkuasa, dibuat tunduk dan mengakui the ugly truth itu sendiri. Sayang sekali, proses pemutar balikan itu menurut saya berlangsung terlalu cepat, dan sejujurnya saya sedikit kurang tersentuh. Sayang sekali, padahal sebenarnya pemutarbalikkan ini bisa menghasilkan efek yang lebih dahsyat andai endingnya tidak sedemikian standar.

But anyway, menurut saya ini adalah film yang cukup menghibur. Untuk para pria, film ini layak sekali ditonton dengan pacar kalau Anda malu untuk mengungkapkan ke pacar apa sih yang sebenarnya ada di otak anda.

saya beri nilai 6/10.

Review Nokia E75

Wah sudah genap seminggu nih Nokia E75 saya kantongi. Handphone yang saya dapatkan setelah uang bonus turun usai lebaran kemarin, hihi… Kesan saya selama ini, handphone ini benar-benar powerful. Mulai dari fisik (ukuran moderat, dan beratnya yang mantap) hingga ke stabilitas handphone ini (sejauh ini handphone belum ngehang, dan kondisi batere juga awet hingga 2 hari lebih).

Handphone yang masuk ke kategori smartphone untuk bisnis ini cukup unik. Bentuk awalnya seperti handphone biasa dengan tombol seperti biasa pula. Namun bodynya bisa digeser, untuk mengeluarkan keyboard QWERTY dan seketika berkat sensor accelerometer di dalamnya, layar pun ikut berubah ke tampilan horizontal. Tampilannya pun jadi mengingatkan ke era communicator. Konon, handphone ini adalah pelanjut keberhasilan communicator tersebut.

E75 dengan keyboard QWERTY-nya

E75 dengan keyboard QWERTY-nya

Tapi fungsi sebenarnya yang diutamakan dari handpone ini adalah email. Kalau menurut iklan, handphone ini bisa PUSH dan PULL email dari berbagai account dan settingnya pun sangat mudah. Kenyataannya memang demikian. Begitu saya mendapat handphone ini, hal pertama yang saya lakukan adalah menambahkan account Yahoo! Mail dan Gmail saya. Keduanya berhasil, tanpa kesuliatn. Cukup dengan memasukkan username dan password, kedua account ini berhasil ditambahkan. Dan ini saya lakukan dalam perjalanan dari toko handphone ke foodcourt. Hingga hari ini pun, fungsi ini berjalan dengan baik. Semua email yang masuk ke kedua account saya ini terus dikirimkan ke handphone. Impresif!

E75 dalam mode telepon biasa

E75 dalam mode telepon biasa

PUSH dan PULL email ini menggunakan layanan Nokia khusus, dan biayanya ditagihkan ke penggunaan pulsa GPRS, seperti ketika kita berinternet biasa. Oleh karena itu, dalam rangka penghematan, saya melakukan kustomisasi, seperti hanya mendownload email header, isinya baru ditampilkan kalau saya merasa itu perlu. Selain itu, saya juga mendaftarkan diri saya di paket promosi internet provider saya. Kebetulan saya menggunakan XL. Ada harga promosi yang cukup menggiurkan. Sehingga saya tidak perlu merogoh kocek dalam untuk menikmati layanan email handphone ini.

Fungsi lainnya yang berhubungan dengan internet seperti web browsing dan mendownload juga dapat berjalan dengan baik. Ada web browser bawaan, namun saya kurang suka dengan cara kerjanya, hingga akhirnya saya pun mendownload Opera Mini 4.2. Software ini bisa berjalan baik.

Namun masalah saya temui untuk software messaging. Di handphone saya yang lama, eBuddy dan Nimbuzz bisa berjalan lancar tanpa masalah. Namun di sini keduanya tidak berfungsi. Nimbuzz tidak bisa masuk ke layar login. eBuddy bisa login namun hanya menampilkan 8 teman. Solusi lain yang saya coba adalah dengan menggunakan Nokia Messaging yang bisa didapatkan di website Nokia Lab. Dengan software ini ternyata semua teman saya bisa ditampilkan. Namun ternyata pesan yang saya kirimkan tidak sampai. Sementara untuk masalah ini saya belum punya solusi, ada yang bisa memberikan solusi?

Untuk komunikasi lain, seperti SMS dan menelpon juga tidak ada masalah. Untuk SMS, keyboard QWERTY yang ada di handphone ini juga sangat membantu. Cukup mudah digunakan, meskipun jarak antar tombol cukup kecil dan batas antar tombol cukup sulit dirasakan. Tapi dengan sedikit adaptasi, ternyata bisa juga. Justru SMS dengan tombol biasa, yang agak sulit. Karena perbedaan antar tombol lebih sulit lagi dirasakan. Jadi sebisa mungkin saya menggunaka QWERTY atas nama kemudahan, kecuali ketika saya berdiri di busway, hehe…

Fungsi hiburan saya belum banyak menggunakan. Tapi yang jelas, handphone ini bisa untuk memotret dengan kualitas gambar yang cukup baik. Saya tidak terlalu banyak memotret, jadi saya tidak akan komplain untuk urusan ini. Begitu juga dengan urusan memainkan file audio yang bahkan hingga saat ini saya belum mencoba, haha… Yang cukup unik adalah urusan bermain game. Karena secara built ini, handphone ini tidak menyediakan game. Yang tersedia adalah akses ke jaringan Nokia n-gage, di mana pengguna bisa mendownload game yang dikehendaki. Dari sini bisa dilihat bahwa Nokia memang serius membungkus handphone ini sebagai perangkat komunikasi bisnis.

Keseluruhan saya cukup terkesan dengan hanpdhone ini. Fungsi utamanya yang berjalan dengan baik membuat saya selalu terhubung dengan dunia maya. Komunikasi via email baik yang urusannya pribadi maupun kantor pun tidak terlewat meskipun saya sedang di busway atau sedang pacaran :). Bentuknya yang elegan dan canggih pun menjadi nilai tambah yang lain. Ditambah dengan stabilitas yang baik, handphone ini menjadi sebuah handphone serius bagi pebisnis mobile.